Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku

VIII. Ibu Klan

  • Sabtu, 10 Oktober 2009
  • A. Moses Levitt
  • Ramuan obat untuk Sallugrun sudah ditelan oleh Sallugrun Makelais sendiri 10 jam yang lalu. Sekarang--waktu gerbang utama sudah diturunkan setengah jam yang lalu--semua keluarga besar Sallugrun berdiri di sekeliling ranjangnya. Si sakit baru saja memutuskan bahwa ramuan dan obat apapun tak akan menahannya untuk bergabung dengan para leluhur klan. Para perempuan menangis tanpa suara dan para lelaki bermuram durja. Lalu Sallugrun mengatakan sesuatu yang membuat sanak saudaranya tercengang. Dia menyuruh putri-putrinya membawa istrinya ke Kotte du Culz dan meminta yang lainnya tetap tinggal.
    Sang permaisuri dan para putri kesal, namun demi kecintaan mereka pada Sallugrun, keempatnya mematuhi titah. Demikianlah Sallgrun Makelais memberikan bekas mendalam untuk melindungi istri dan putri-putrinya sebelum kepergiannya. Suaranya mantap, seperti ketika dia masih sehat. "Semua pemimpin klan akan mati, tidak terkecuali aku. Kuhargai semua usaha kalian untuk mempertahankan keberadaanku di dunia fana ini. Tapi...tentu saja aku lebih menginginkan kebakaan. Dan oleh karenanya--racun dalam hatiku sudah bekerja dengan sangat baik--bersumpahlah demi Elloc dan makam ibu kalian, jagalah tanah ini seperti kita menjaga para wanita dan anak-anak kita. Tak ada yang boleh merampasnya dari kita, dengan cara apapun itu."
    Jeda yang berjalan berat membangkitkan bisik-bisik di antara mereka yang hadir. Anggota keluarga besar yang belum tahu soal racun, menjadi marah, panik, dan terkejut. Namun sebagian orang menonfirmasikan desas-desus tersebut saat itu juga. Sallugrun sendiri telah mengatakannya. Dan jika benar dia diracuni, siapakah orang yang tega meracuninya? Kenapa belum ada hukuman gantung untuk orang hina itu?
    "Tapi siapa?"
    "Tidak ada yang memberitahu."
    "Kenapa kita harus mendengarkan gosipnya dari para pelayan?"
    "Jangan sampai penduduk Ordys tahu."
    "Bagaimana bisa sehina itu?"
    "Kita sudah mendapatkan saksi dan bukti?"
    "Hukuman paling keji."
    Namun sang Sallugrun sendiri menenangkan keributan itu. "Simpanlah semua dalam hati. Ketidaktahuan adalah berkat bagi sebagian orang, dan pengetahuan adalah juga merupakan penderitaan bagi sebagian lainnya. Aku hanya meminta kalian semua bersumpah, sebelum aku berbaring di samping para leluhurku, jagalah Ordys Rexare dengan nyawa kalian.Tak ada pecah belah. Tak ada musuh dalam selimut. Tak ada iri hati dan dengki, juga dendam. Dukunglah Sallugrun yang baru agar tanah Ellezmaior dapat menjadi rumah bagi warganya."
    Seorang laki-laki, sepupu Makelais, maju ke ranjang sang Sallugrun dan membisikkan sesuatu di telinganya. Keduanya lalu saling menatap dan tersenyum. Melihat itu kemuraman dan keterkejutan berangsur-angsur hilang. Tapi tak bisa disembunyikan bahwa pertanyaan siapakah yang hina, meracuni Sallugrun yang bijaksana itu, akan menuntut jawabannya yang sebenar-benarnya.
    Terompet penanda berakhirnya waktu bagi orang-orang, siapa saja untuk berkeliaran di sekitar tembok kompleks Rumah Batu Sallugrun, terdengar nyaring. Bunyi kepak sayap burung malam dan kelelawarterdengar menjauh. Serangga-serangga memperdengarkan suaranya yang khas, saling meningkahi. Lima menit kemudian, kembali senyap. Tersenyum, Sallugrun mengedarkan pandangan ke wajah-wajah sanak saudaranya di sekeliling ranjang. Putra sulungnya, Manelais, berdiri di antara istrinya, Lidya, dan sepupu yang selalu bermain bersamanya sewaktu kecil, Kappalais. Di belakang ketiganya, membentuk bendungan melengkung, tak beraturan, para keponakan Sallugrun. Mereka semua tampak sama di matanya: rambut hitam panjang, tatapan was-was bercampur gairah yang ganjil.
    "Saat aku mengatakan ini, aku menyerahkan tanggung jawab mulia ke atas pundak Manelais. Biarkan laki-laki tua tidak banyak berguna ini tidur dengan tenang sebelum pagi tiba," gumam Sallugrun pada mereka semua. Diam. Membatu. Angin mendesir di ujung hutan. Kekhawatiran apakah detik itu juga saudara tertua akan pergi, menghantui. Namun ketika tak terjadi apa-apa, manelais maju ke depan, mencondongkan tubuhnya dan berbisik pada telinga ayahnya.
    "Aku akan panggilkan ibu dan adik-adik."
    "Kau tahu apa yang terbaik untukku."
    "Ayah--" Sebilah pisah serasa menikah ulu hati si anak. Tapi dia berusaha tersenyum.
    Sallugrun kemudian mengeraskan suaranya dan menyuruh mereka semua keluar dari kamarnya, "Sudah saatnya kalian semua beristirahat di rumah masing-masing. Aku tidak ingin menyusahkan kalian lagi mulai sekarang." Dia tersenyum, "Dan kau, Manelais, kau harusnya mulai memikirkan tentang semua urusan yang rumit di tanah ini." Dia malah tertawa, "Tapi selalu harus ada perempuan yang baik di belakang semua urusan rumah tangga."

    0 komentar:

    Related Posts with Thumbnails

    La Musica