Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Dua Pasang Mata

  • Minggu, 23 Oktober 2011
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,


  • dua pasang mata bergemuruh, melawan ombak irama keruh. di ruangan kecil tak melambai jemari dan rambutmu. aku melihat sepasang mata hitam memahami tarianku. kau menari, aku menari. tanpa ragu, kita tak malu. ini irama kita diambang putusnya jenaka. di hulu perahuku sedang mengapung, kusuruh menunggu. lalu aku melihatmu ketika dua pasang mata memburu. satu suara hati:
    melihat intinya!

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~


    tengah malam jangkar kutarik.
    dayung bersabung-sabung dengan tarian melungsurkanku. ke muara, jauh, pergi meniti:
    kita berpapasan di antara perkelanaan dua insan yang satu masa berkembang!

    `````````````````````````````

    sesampai di daratan, aku berjalan di tanah basah. aku menghayalkan kering dan padat. aku mengingat kembali seluruhmu sampai menari-nari tanpa dentuman musik. karena kuikuti tarian jiwaku waktu kau membentur di sisi kiri jantungku. ku pegang tanganmu, aku tuntun langkahku. mengingat saat genting diakhiri kemelut rindu. betapa resah dan gembira malam tidur kita, sehingga aku bertanya dalam ingatanku kepadamu, biru:
    oh, muda biru, kenapa gembira dan gregetan ada di antara keterpukauannya, di tengah dua pasang mata yang melihat? rasa bergolak-molak, sayang?


    Ajal (part 1)

  • Minggu, 16 Oktober 2011
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *di jakarta kejadian kesetrum terulang lagi. saya jadi teringat pernah mengalami hal yang sama di makassar kira-kira tahun 2004. lucunya waktu itu saya kesetrum di kamar seorang teman, kalau saya mati, bisa jadi rame urusannya. teman saya itu bernama Jimmy Nainggolan. waktu itu saya lagi asyik mendengarkan radio dan mengagumi pesawat miniatur rakitan Jimmy*


    ajal,,,,,,,,,,limbung, bingung.
    aku mengerang kemaluan. dan semakin membesar--nyeri.
    badai keruh tempur menempur mengolekan tubuhku dan geliku.
    tertawa dan menangis karena malu.
    jari-jariku mengerang.
    ibu jari meletup-letup kena aliran listrik.
    positif negatif positif negatif.
    belum bergabung bunyi musik hilang lenyap saat mataku mengecil.


    aku kena
    kenal akan ajal.
    mengenal kematian yang ditakuti.
    tidak. begitu dekat siang ini kematian dan tubuhku.
    urat-urat jemariku ngilu. percik-percik lalu aku mengerang hampir mati.
    mati rasa, malu, kematian datang dekat sedekat kulit dan tulang.
    "menjerit?"
    aku tak pernah menjerit. aku memanggil-manggil nama-Mu Tuhan!


    dalam gua sepi kelam yang kularikan diri.
    aku coba ketuk-ketuk batu hitam.
    di ujung kegelisahan malam runtuh.
    langit rapuh-kapur-putih-patah dan jatuh.

    Lumayan Jauh

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *saya sedang berada di luar metropolitan yg tiap harinya macet dan banjir. saya ingin menepi, menulis ttg apa saja, dan menonton Naruto dengan iseng*



    mungkin kita telah pergi sejauh doa
    bisa jadi kita hanya pergi sepelemparan batu
    hari itu gunung mulai jauh dan awan gelap menudungi kepala
    seharusnyakah kau menunggu di sebuah celah gunung dengan daun pisang
    sebagai payung sementara aku tak pernah bisa mengemasi masa laluku
    dalam buntelan?

    mungkin yang kita tuju sejauh doa
    bisa jadi kita hanya melihat ilusi sejauh mata memandang
    jika itu fatamorgana, akankah kau tetap pergi bersamaku?

    Legendary

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *setahun terakhir ini saya nyaris tidakbertemu muka dengan teman saya Valen,yang dulu pernah sama-sama jadi buruh di pabrik kayu. tanggal 2 nanti rencananya saya, Valen, dan teman-teman lainnya akan berkumpul di La Piazza. ada banyak hal yang mesti dibereskan di sana. tak disangka*


    sukakah kamu pada sejarah, Gunapriya?
    tentu kamu tak pernah mendengar tentang Parseus, Ratna Manggali.
    tapi aku sebagai patih, perna bertemu Zeus.
    Zeus yang orang Yunani puja.
    Zeus yang menjadi raja para dewa dengan bersekongkol dan membunuh bapaknya, Kronus.

    pernahkah kamu bertemu manusia setengah dewa, Airlangga?
    tentu saja kamu pernah, mungkn itu Khrisna atau Hanoman.
    tapi aku sebagai patih, mengatakan kepadamu sebuah rahasia besar ini.
    rahasia yang hanya dipunyai oleh tukang gulung lontar.
    tukang jilat pena.

    "Ular berkepala tujuh di India, Hydra di Yunani adalah kesamaan. Ratu Pantai Selatan dan Medusa adalah kesamanan."

    aku masih punya rahasia tentang legendarry lainnya, sekarang kamu kuminta mencarinya pada alam, buku, arca, patung, candi, dan dalam dirimu sendiri, Bahula.
    patih mohon pamit menuju alengka yang orang Yunani sebuh Olympus, Phartenon.
    tu satu rahasia lagi untukmu, Mpu Barada.

    Ajal (part 2)

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,

  • kalau langit patah dan jatuh kapur mengapur batu-batu gua menutupi mulut terang nan ujung. lalu aku berdebar-debar dalam ngeri egoku. sugesti mereka bilang tapi mereka mati saat mereka berhenti memikirkannya.

    ajal


    dekat denganku dalam kamar yang bukan milikku. aku merasa mati sebentar gila sebentar kejang dan t
    enang bagai pelan-pelan benam dalam air kelam. satu dua tiga empat sampai nafas semburat-semburat di hidung berhenti mengirup. lega ajal aku takut setelah keluh.

    takut mati tapi bukankah mati muda lebih bahagia dan sejati/

    tak ada kecewa dan perih karena ego tan berkoar-koar lagi/
    tenang pelan bahagia mendayung/

    di
    kamar ajal kutemukan dekat dan datar tidak membosankan/
    tanpa egoku tanpa ego siapapun cuma kerelaan/
    aku tersenyum/
    basah bibirku ingin kukecup letup-letup listrik itu ketika dia memerah/
    membiru karena ajal dan aku adalah tulang dan kulit/
    darah dan hati/


    hati yang penuh\

    tulus kan keluh\
    tak pernah mau takut mati\

    orang muda tak pernah takut mati\



    Gambar dan Kemesumanku

  • Sabtu, 15 Oktober 2011
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *waktu ini saya sedang giat melukis tentang tema ketelanjangan. saya melukis Monalisa versi saya pada jam 11 malam, ditemani Ishtya dari Lebanon, teman khayalan saya. gorden jendela tak terpasang sehingga cahaya-cahaya dari langit begitu syahdu. saya terinspirasi melukis malaikat yg telanjang. sekarang lukisan itu tak terurus di lantai atas rumah Opa saya. saya teringat teman-teman pelukis saya: Mayoulush, Vallent, dan Wong Solo*


    gambar dan kemesumanku di ladang
    dengan alas padi jerami menguning dada perawan.
    cahaya matahari malam mendung seperti petang buram
    memerah berdarah dan berpeluh.

    kemesumanku dibalas kemesumannya

    di atas gambar lekat dengan cara goyangan tubuhku
    aku melamun aku bertahta dan meraja separuh jam tidurmu.
    gambar tidur tubuh penuh tidur
    dada yang tegar tidur itu cerita alama itu tidur.

    selama kau dan aku melepas kegilaan malang di siang hari

    bulan datang aku pergi. engkau terdia bulan penuh.
    aku pulang engkau tenang. mari mengenang cahaya dari siang sampai petang buram.
    : ada kemesuman
    aku
    tidur
    kau gambaran perbendaharaan material dalam hidup yang tak pernah puas oleh kemesuman.
    aku memang gambaran lebih dari pada itu-

    Di Air Keruh

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,

  • *pada masa ini saya suka membaca catatan pinggir Gunawan Mohamad di majalah Tempo langganan di rumah. itupun majalah itu harus rebutan sama sejumlah pemuda dengan berbagai latar belakang budaya. tapi ketika saya membaca opini GM itu, saya terinspirasi menulis sajak ini, tentu saja saya ditemani Ishtya, yang belum mewujud dalam rupa seorang gadis solo bernama......*


    -dimana waktu terbuang percuma? di penantian kekal akan bahagia? cepat berangsur meratapi nasib, jika kau terus percayai nasih dan guratan tangan.

    -pohon-pohon bambu kuning bergoyang, diterpa angin panas, mengapa disini lembab dan peluh, beginilah hasrat yang selalu menggebu.


    di atas air keruh kudayung berulang
    ulang badai yang tak pernah bisa dibilang kuat dan lendir yang tak bisa dibilang kental, keruh, air, mata. seingatku, waktumu tak terbuang percuma kekal penantian sesungguhnya salah tangismu juga tak untuk nasib.

    karena kita di atas waktu itu
    bertemu bibir tepat ssebelum bosa mengecup dan lepas tawa bagi bahagia kau tak sendiri?
    di atas air keruh ini
    dayung belum lagi mati mengais-ngais benci dibalik lendir dan kental kita temukan mantel baja bagi cinta

    -kau temukan cinta. memungut bening air mata dan jatuh putih pada bahagia berdua. benarkah? air keruh itu bukan ukuran cinta yang jauh. kau terlalu taku dan pesimis
    -pada perjuanganku dan pengharapanmu. percayalah untuk sesuatu di balik air keruh itu. sebab kau akan selalu duduk di permukaannya, mengais sampah yang berguna

    Bangku Ruang Tunggu

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *hari ini saya mendapati diri duduk kaku bersama seorang wanita cantik, di kampus. dia pakai rok mini, ada tatto barcode ini tungkainya. saya kira mungkin dia sering clubbing di barcode. ah, saya mungkin sedang jantuh cinta padanya.*





    sudah sering kulihat kau duduk di bangku ruang tunggu ini. belum menyapa tak mengapa.
    lalu sesuatu pecah sebelum senyum meluncur ke bibir penuh. bukan siapa-siapa.
    hanya menggugur pikiran muncul mengatakan yang tak tersangkalkan. emosi dan pekik hahaik....!!!
    aku Ramon sedangkan kamu Virginia.


    V: .........
    R: ........
    V: ah, berubah-ubah mentari di kangkangi waktu. berubah-ubah hati di kangkangi nafsu.
    R: bisa ya dan menanti kapan. barangkali kau lupa bahwa kau bicara padaku di bangku ruang tunggu ini.
    V: mari duduk. mari. kalau mau dekat di pahaku dan pusarku. kau pasti ngeri.
    R: ........
    V: ........... ngeri........ngeri.
    R: kalaupun di pahamu ada gairah jahat dan di pusarmu mengapung benci dan penghinaan juga penolakan. itu semua biasa di dunia ini.
    V: duniamu juga.
    R: dunia kita yang tidak lagi menunggu untuk membuat pemulihan. hanya hasrat-hasrat jahat.
    V: tapi aku, pahaku dan pusarku tak mau memungut kejahatan itu, kau tahu?
    R: hmmm.. karena itu untuk saat ini aku sangat mengagumi dan mencintai pahamu, pusarmu dan wajahmu.
    V: duduklah di sisiku. bangku ini untukmu dan untukku. aku percaya itu.
    R: akan--bila setibanya aku dari gairah, kau telah mengusung kesopanan dan etika. aku pasti akan duduk.
    V: boleh ku kenal suaramu?
    R: ah, aku sudah kenal kau dan apa-apamu.




    Subuh Mengganggu

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,

  • *dari jendela kamar lantai 2, saya bisa melihat ke kolam ikan yang dipelihara oleh seorang pria tambun tua (ayah saya): ikan mas, sapu-sapu, dan bakung. tapi saya juga biasa melihat sesuatu di situ. sesuatu yang bagai putri duyung, bangsa Mer (mungkin itu ibu saya, Merci). waktu itu saya sedang tidak suka pada laki-laki yang bergaya perempuan (sayangnya dia kakak saya). ishtya menemani saya di mulut bingkai jendela*







    subuh mengganggu

    bila lalu tertinggal jauh
    bermesraan mimpi mengigau-igau
    tubuh fana yang cepat punah
    gerakan pintu untuk masuk merajuk
    datang mengganggu

    "epsom katamu"
    lagi pintu tertutup katup
    bila lalu tertinggal gantung
    berguling masa nan Merah
    berganti laki-laki bagai wanita
    bukan diskriminasi gender
    bukan juga benci pada banci
    "tapi mungkin malu"

    igauan mimpi meronta-ronta, kejang tak berkutat, soalnya bukan regang nyawa, bukan hanya jadi wanita, tapi banyak lagi permintaannya.
    dihormati
    diam
    halus
    banyak lagi. terus tak berhenti sehingga hidup di kala ini menjadi malu pada diri. pria menjadi wanita. lupa beli pisau cukur dan tembakau. pria ini yang kutahu cuma beli kaus kaki bulu hitam dan cat kuku. dia di dekatku menjadi sakit untuk mata dan telingaku.
    bukan benci, bukan curiga apalagi iri. tapi bukan seperti itu engkau. kalau dalam jarak yang masih dapat teratasi. kau.
    kuberlari ke ujung mulut pintu subuh, berdiri menunggu kau lewat, berjalan tegap hentakan kaki keras. dan subuh itu juga kau adalah lelaki s ejati. kau. memang aku tak pernah malu untukmu.

    Wanita Telanjang

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,

  • *saya sedang membenci orang-orang yang memBreidel majalah-majalah atau karya-karya yang disebut mesum. hari ini Ishtya ada di kamar saya, tapi dia tak bicara apa-apa sebab dia sedang asyik melihat lukisan terbaru saya, monalisa. lukisan itu mengingatkan saya pada Maryam*



    ........kau pikir yang itu saja
    ........kau tentu tak pernah mau mengerti, ini adalah di luar nafsu.
    ah, kau selalu tahu ini. kau tahu?

    musuh-musuhku berkumpul di sekeliling kotaku
    bahkan tembok dan orang suruhanku dibakar
    aku menangis tertumpah darah, jamur kuping menjadi makanan terakhirku
    tapi ditukarnya makanan itu
    kerongkongan dan hatiku bergola
    k sebelum tak kuingat lagi kesalahanku aku tertidur datang satu wujud menabrak kebisuanku
    sudah lama aku tak tahan seperti singa di masa mudaku
    dia ploroti kulitku


    kulihat merah darah putih tulang masih seperti dulu
    seperti awal perjuangan
    walau tentaraku pasti habis dililit duit dan agamis fanatis


    wujud berambut panjang runcing dagu tawa lengking
    aurat samar-samar kukenal dia dia bilang padaku: Merdeka! ah gila kataku
    dia teriak padaku: Tuntas! ih, omong kosong celaku

    dan aku teriak-teri
    ak bagai ingin mati di atas puncak payudaranya:

    "aku tak kuasa lagi melihat merah darahku tetes putih tulangku patah
    mari menutup mata di samping wanita telanjang ibu dari garba yang membersakan bumi tercinta ini kurasa hari penderitaan sudah dekat sirna mari mendekat sayang."

    Tiga Jam

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,


  • *hari itu saya bertemu seorang gadis Jawa berkecamata bernama Gita. dia aktif di rumah ibadahnya, muda dan penuh inspirasi. Ishtya selalu pulang ke Lebanon kalau saya menulis puisi tentang seorang perempuan. mungkin saya mencintai dia*

    tiga jam tidur malamku, cukup?
    semua bergulir tak peduli pada keheranan dan mencemooh ketidaksiapan.

    kuning bajunya, oval wajahnya, dengan sedikit cekung porselen di dagunya
    gita
    diam dentang denting dendangkan lagu anak-anak sedunia.

    gita
    bersuara lembut di dua kebaikan
    lekas dekat kesana dekap dan dekap lagi gita?
    alunan itu, heibat kukatakan: ini hawa itu, sebenarnya. katanya: itu azali dan suci. tidakkah kebaikan adalah kebaikan? lalu aku tersenyum, "ya".

    Kosong Kosong

  • Sabtu, 13 Agustus 2011
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *Saya sedang melihat teman saya Martin dan Egy sedang mondar mandir di bumbungan rumah saya. bermain layang-layang. saya ini saya peneng coba bunuh diri, terjun dari lantai dua. cuma pengen tahun bagaimana rasanya*



    naik ke bumbungan rumah dan melompatlah ke bumi. waspadai dingin dan licin
    agar kematian murni bikinanmu. daun kamboja jatuh satu dua, kuning, ada yang hijau
    layu, gemulai dan lepas agar tumbuh hidup baru.



    letakkan topimu di dasar koper. lipat semua dasi di atas tanah. cicipi nasi panas
    tanpa garam, agar pergimu terburu-buru. sayang! kawini aku. aku bosan
    dengan pengetahuan ini. kosong kurasa. engkau? kosong jugakah?



    ai sayang! kawinanmu tidak sepatut yang mesti kita lakukan.
    kau mengawaniku di bawah kelambu dan aku terengah di atas kertas
    bukankah itu bodoh? kosong tidak berpendidikan?



    kau tertawa menyibakkan rambut. aku berpeluh memicingkan mata. pening otak belakangku, sakit urat di selangkanganku dan kita masih saja kosong kosong. kosong kosong untuk hidup kosong kosong untuk ilmu kosong kosong untuk tidur kosong kosong untuk cinta. jadi kau ada? sayang? kawini aku dengan cara yang lazim seperti anak dewa mengawini anak dewi. lahirnya kebanggaan. kebanggaanku padamu dan pada apa yang kupelajari.

    Coret-Coret

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *terinspirasi dari 2 film. yang pertama "the dream" yang kedua "sophie school". perjuangan anak-anak muda di dunia politik sosial. oleh karena itu saya juga suka tidur telanjang. rasanya lebih nyaman. untuk diri sendiri tentu saja. setelah itu saya akan bangun dan menulis sajak*


    hari ini tidak seperti mendung
    duduk di puncak gunung dan bukitmu sayang. burung berkicau dan bertengger di atas rumput bukit-bukitmu. aku keluh.

    rampung kerja rampung tenaga
    pahatan pualam tak bisa kujawab. pahatan kertas tak bisa kukecap.
    ironis?

    bukit-bukit kepunyaanmu mengharumkanku. betapa tinggi dan rendah dudukku di kaki mati.
    kalau ini hanya gambar bukit-bukitmu dan imajinasi ku yang gersang.
    coret-coret saja semuanya. aku mau berdarah. mau terluka.
    sebab itu cocok untuk memulai warna merah di depan selangkangan kerjaku nanti.
    di situ kita bercinta dan tak mau menatap mendung dan mengoleksi jawaban.
    kita hanya tahu bercinta, bercinta dan duduk mencoret-coret kertas dengan darah dari selangkangan masing-masing.

    coret, lukai diriku. coret-coret lukai diriku terus menerus. sebab aku mau luka dulu sebelum sembuh dan kembali ke bukitmu. aku mau sakit dahulu sebelum bermesraan dengan bukitmu.
    aku mau mati dulu sebelum bertemu dalam baka dengan bukit-bukitmu.
    aku mau tahu dahulu sebelum kita menjadi satu karena bercinta.
    aku mau tahu seluruh pengertiannya dahulu, sayangku!

    :"alamak, tak bisa kugambarkan kegelisahanku.
    kejengkelanku dan kemaluanku. semuanya membesar menggelembung bagai diisi angin timur yang tenang dan angin barat yang goncang itu."

    mau marah: salah.
    mau caci: dosa.
    mau mengoreksi: telat.
    mau menangis: banci.
    mau makan: hambar.

    :"beri aku air mendidih dan kupas kulitku sampai aku benar-benar putih."

    Tanpa Judul

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *tanpa judul. sajak ini lupa saya beri judul. sebab saya sedang puyeng mencari ishtya yang hilang*



    wanita berambut panjang dan bermata bulat itu bilang:
    "biarkan dia mengalir apa adanya. jangan menyesal...sekarang lakukan yang kau tahu, itu isi hatimu"

    tapi pada akhirnya aku jalan di bagian tepi danau ini dan dia masih duduk di bangku, menghadap ke air dengan berurai air mata. aku melintas:
    "kau gadis manis sehari itu kah?"

    dia mengusap air matanya. bibirnya merekah, senyumnya manis:
    "kekasihku pergi. dia tidak mesti bersamaku walau kami saling mencintai sehari tapi kami tahu hidup ini indah karena kami saling mencinta. itu sudah cukup."

    lalu kududuk di sampingnya.
    tidak bersentuhan denganya. dan lalu meliriknya sambil tersipu malu.
    maka segera kubilang:
    "berhenti menangis, takdir mempertemukan kita di tepi danau ini."

    segera kubuka topengku.
    dia menangis lagi dan kamu berpelukan mesra sekali. dalam isakannya dia berujar:
    "pasti kau merindukanku. jangan menahannya. biarkan dia mengalir apa adanya."

    kuhapus air matanya, tidak lagi biru. kukecup bibirnya tidak lagi pahit maja.
    kudekap tubuhnya...oh betapa hangat birahi.

    Aku Perampok

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • **saya sedang merasa ngeri pada perbincangan artis2 di tv yang kelihatan merasa keperawanan dan keperjakaan adalah produk masa lalu, yang sudah basi di era modern ini. Ishtya marah besar, begitu pula saya yang duduk di pangkuannya**


    daun dedaunan berbisik di telingaku
    bangun membangunkan roh jahatku
    "aku datang nona"
    untuk merampok kesucianmu
    bukan cuma itu saja
    "lihat"
    cintamu pun amblas di bibir kotorku


    aku pendusta
    lari dari keserakahan dan tidur dengan penyamun
    itu sama saja
    "aku datang nona"
    karena aku tergila-gila pada kesucianmu
    demam cumbu polos
    "rasa"
    cinta tlas menggosok bibir kotorku


    mari tidur sayang. kau sudah jadi nonaku yang mengemis kesucian.
    kau sudah tidak perawan lagi dan sejak kapan mereka peduli pada kesucian? aku bertanya padamu nona. mari bercinta, manis. harum dan manis peluh cinta. seduh dan kecap darah kasih. lupakan bahwa aku pernah datang ke kamarmu,merampok kesucianmu. hidup tidak perawan bersamamu dan dengan itu saja kita dapat melupakan kelahiran kita yang suci.


    "nona, kenapa tepekur seperti gila?"
    bersenang-senang denganku. kecup hari ini.
    NONA:
    jawabku satu. aku gelisah baik sekarang baik nanti. kenapa orang seperti kita suka akan ketidakperawanan dan ketidakperjakaan? tapi aku bersyukur untuk masa keperawanan dan keperjakaan kita yang tak lebih dari seperempat abad. aku bangga sayangku. laki-lakiku. pendobrak keperawananku. aku bangga pada kesucian itu!!!

    Untuk Yang Kuasai Ini

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,


  • untuk yang kuasai ini
    aku bicara padamu dari kembung perutku
    menderita dengan batu sakitku
    dan bergelora dengan birahiku


    belum sampai sehasta
    lupa sudah jarak yang diambil panah
    lema-jarak-cepat-kabur
    teba tembus pusarku

    aku tahu semua pikir mreka tahu bahwa engkau menyiksa aku karena keras kepalaku
    dan pagi kemarin dan pagi yang lalu aku tidak berdoa padamu
    rasanya pada belenggu aku bisa berdiri rahasianya aku selalu menyebut namamu
    sembilan kali atau kelipatan tiga kali agar aku berani terborgol di jalur kereta api
    menderu
    dan aku hidup

    "kurasa kau yang kuasai ini"

    Kereta Senja

  • Kamis, 11 Agustus 2011
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,

  • *saya senantiasa menunggu kereta di stasiun tebet, berangkat ke bogor, menemui belahan jiwa saya. ishtya pergi ke lebanon, lama tak kembali, mungkin sudah kawin. saat terakhir bertemu dengannya, dia menatap saya seperti kesal, seperti marah. saya takut, kami tak bisa berteman lagi*


    kereta itu bagaikan ular yang datang untuk lindap

    seharusnya dia tak berhenti untuk lindap

    tapi dia lindap juga untuk mengangkut tubuh-tubuh

    tubuh-tubuh yang peluh dan keluh

    adakah perjalanan ini akan sampai ke tujuan?

    Ambiguitas

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • *Ishtya pernah membacakan puisi ini dalam ketidaktahuan di sebuah acara api unggun di puncak Semeru. dia menjadi malu dan jijik pada saya sebab saya patriarkhis, katanya. saya memandang rendah perempuan dan melanggengkan stereotype yang lelaki percayai: wanita itu makhluk kotor, ular. tapi ketika kembali ke rumah, saya bicara baikbaik dengannya. saya katakan, sajak ini saya tulis berdasarkan pengalaman nyata dan pribadi ketika saya naik kereta di Tebet menuju Bojonggede. ada gerbong untuk perempuan di 1 dan 8 tapi banyak yang naik di gerbong lain. mereka tidak berpegangan pada gantungan sebab padat manusia. mereka sibuk dengan BB. lalu kereta menghentak dan mereka terhempas. ketika menamrak lelaki di belakangnya, mereka memandangnya jijik, seperti lelaki jelek itu baru merabaraba tubuh mereka*





    Kereta
    pintu yang buka tutup tanpa sebab
    kepala yang menjulur lalu mencaricari
    kakimu menginjak tumpukan kaki
    dan kau mengucap maaf meski kau telah didorong

    Tubuh lain yang molek
    membelahbelah bagian dadanya dengan bebe di tangan
    malaskah dikau berpegang ke atas, wanita?
    lalu dia terhempas mencari pegangan

    Tubuh lelaki yang kaku dan jantan
    tegak agak terhuyung marahmarah
    sebab dikau hanya mengeluh dan memandang jijik

    "jangan pernah memuji dirimu."
    sebab siapa yang kan melecehkan dirimu
    jika bukan dirimu sendiri, wanita?

    Kata-kata Inspiratif

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • Tadi berkunjung ke blognya Sang Cerpenis. Liat dia merasa bersalah (ato gak kale ye..hahahaha) sama blogger Fanda yang suka baca buku dan komen2 buku itu. Katanya ada permintaan bikin semacam kata2 mutiara inspiratif gitu, ato kata2 motivasi gitu.

    Saya sempat teringat sebuah buku, Nyanyian Sang Katak, tapi lupa kata2 motivasinya, jadi saya bikin sendiri aja... kata2 yang sering saya dengar Emak saya bilang ke Bapak saya:

    Bila bebanmu terasa berat, hadapilah dengan senyum

    sesederhana itu, tapi membuat Bapak saya senyum, (senyumnya jelek, gak kaya senyum pacar saya yang memabukkan) dan masalah keluarga akan mulai bisa teratasi satu demi satu. Sampai malamnya kami makan bersama dan bercerita tentang lelucon yang dibuat adik bungsuku yang mukanya mirip John Lennon itu.

    Berkat atau Kutuk

  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • Susunan pakaian, di balik 2 bingkai kaca, hitam-hitam
    tumpukan menara buku fiksi miring, mungkin besok pagi roboh
    jejeran mobil mainan, belum dirapikan ke rak
    aku tidak meratapi kesulunganku

    Besok pagi, entah matahari terbit entah badai
    menara buku fiksi harus dibetulkan
    tumpukan pikiran dicuci dan jejeran mobil mainan
    disusun di rak kayu di luar kamar

    Tutup lagi pintu itu, duduk lagi di bibir ranjang ini
    mari kita pikirkan kesulungan kita
    apakah sebuah berkat atau kutukan?
    Related Posts with Thumbnails

    La Musica