Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label pemerintahkita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemerintahkita. Tampilkan semua postingan

Bir+kacang (Roro)

  • Rabu, 10 Maret 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • 66

    Beberapa laki-laki bertubuh tinggi besar (belum tentu perutnya kotak-kotak) berada di depan meja bar dari kayu oak di dalam sebuah bar yang hangat dan gaduh dikunjungi jika sudah tengah malam. Para ladiez akan keluar dengan kostum ala catwomen dan menari-nari di atas permukaan kayu meja bar itu. Seorang laki-laki berkumis pamitan pada temannya untuk pergi pipis di toilet. Dia kembali dan langsung meraup kacang di piring kecil dan meneguk bir dari botolnya.
    Kacang ditambah lagi ke piring. Mereka mengambil dan mengunyah dengan rakus ditemani teguk-teguk ringan bir dingin.

    Kami tertawa mengomentarinya.
    "Kalian pasti masih ingat perempuan pelayan bar pergi ke sudut dan berbicara dengan salah seorang penari yang baru tiba." Si Bungsu ingat betul adegan itu.
    "Dengan jelas, Kawan."
    "Perempuan penari itu menatap ke arah laki-laki di meja bar dan bilang dengan meremehkan, 'tolol, semua laki-laki tolol. Setelah mereka pegang penisnya di toilet, mereka meraup kacang dengan tangan yang sama.'"
    "Dan pelayang bar tergelak, 'mereka berbagi penyakit satu piring kecil. Tahukah kau toilet kami airnya mati dan aku belum mengganti tisu baru?'"
    "Kalian pasti lupa kalau si penari melambaikan tangan pada seorang laki-laki di meja bar dengan genit dan semua laki-laki di sana memasukkan telunjuk mereka ke dalam mulut mereka seolah-olah--"
    "Kau lupa kita ngak bisa soal seks?" kata Si Sulung.
    "Tapi adegan ini menggelikan dan konyol sekali, sayang dilewatkan."
    "Yah, entah berapa juta laki-laki telah makan kacang dari piring kecil yang sama. Penari itu bahkan menghindar ketika para lelaki itu memasukkan pecahan 1 Dollar ke belahan dadanya."
    "Gw tau adegan itu tapi demi anak-anak balita, gw gak membicarakannya," Si Tengah berceloteh sok alim.
    "Dasar munafik."

    Tidak sampai bertengkar atau adu jotos. Kami berempat habiskan bir dan kacang dengan hati-hati dan turun untuk tidur di kamar masing-masing. Yang kami pikirkan, sesudah di kamar sendiri, malam ini hanyalah menemukan nama Rara atau Roro di salah satu dari ratusan papan pengumuman di universitas kami. Sebelum terlelap, kami mendengark telepon rumah berdering dan semua orang berlomba mengangkat gagangnya.
    "Dari Ibu. Tumben, malam-malam," kata Si Sulung pada kami.
    "Trus kau sudah mencuci tanganmu sebelum pegang itu telepon?"



    Banjir+legislatif (Roro)

  • Rabu, 20 Januari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 46


    Pulang kuliah hari Jumat...


    Kami membantu teman yang kebanjiran sementara di rumah sendiri kebanjiran. Dari rumah Ibu menelepon, katanya mereka harus naik ke lantai dua karena banjir. Kakek marah-marah melulu. Nenek sibuk mengumpulkan guci-gucinya yang antik. Bapak malah santai saja. Dia meminta seorang bujang yang ikut dengannya untuk bantu-bantu di rumah, menaikan sofa dan ranjang ke kursi dan meja. Buku-buku dan pakaian di laci lemari bagian bawah dikosongkan.
    Kami bertanya: "Apakah barang-barang kami di kamar bawah rusak?"
    Tidak, di kamar atas yang rusak. Basah, sebab air hujan membias ditiup angin timur yang kencang.
    "Aduh, banjir atas bawah sekarang," keluh Si Bungsu.
    Kasihan Paman dan Bibi kami yang rumahnya berlantai satu. Apalagi rumah-rumah baru di depan mereka, fondasi dan garasinya tinggi-tinggi.
    "Semeter di atas tanah. otomatis air hibaan lari ke rumah mereka," kata seorang teman.
    "Kasihan!" yang lainnya menimpali, seakan mengasihani diri sendiri.

    Tapi kami bilang pada Ibu: "Katakan pada Bapak, kalau partai dimana dia jadi salah satu motornya itu bisa memberi solusi kecil untuk orang-orang seperti Paman dan Bibi yang kebanjiran dan butuh tempat berlindung yang nyaman, seperti di rumah, dan tidak dibiarkan terlantar begitu saja, kami akan mencontreng partai itu untuk semua pemilihan, baik presiden maupun legislatifnya."
    Ibu tak berkata apa-apa, meski kami mendengar seperti dengungan lebah di telinga kami. Sambungan telepon pun terputus dan kami hanya bisa bilang dalam kegetiran: "Kami akan jadi hamba partai itu jika kau baik-baik saja, Ibu!"





    Kontrol+pemerintah (Roro)

    46


    Dari pembicaraan dengan Door, kami sadar bahwa kami lebih mirip Ibu. Kami lebih suka menanam segala macam bunga yang bisa di dapat dari tetangga di halaman rumah kami. Ibu akan berkeliling pagi, siang, sore, dan malam untuk menikmati ruang kosong itu, yang baru kemudian, dari Nicky, kami tahu ruang kosong itu disebut dengan berbagai versi.
    "Taman" kami bilang kami sudah tahu.
    "Ruang terbuka" yah memang terbuka, anak kecil juga tahu.
    "Pekarangan taman obat" ini mulai agak rumit.
    "Lahan serapan air" dia mungkin bercita-cita menjadi insinyur pertanian, dulu.


    Kami jadi mengidamkan kota kelahiran kami berubah landskap menjadi tata kota di pedesaan Eropa dan Amerika. Satu hal yang ingin sekali kami bicarakan dengan Bapak agar dia membicarakannya dengan anggota-anggota partainya yang lain. Kalau mereka dapat kursi, setidaknya mereka dapat mengingatkan masyarakat akan tata kota itu. dari kenyataan itu, ada hal yang aneh. Sebab menurut Kakek, tanah di suatu tempat adalah tanah milik pemerintah negara itu.
    "Sehingga untuk membangun sesuatu di atas tanah itu, kita mesti minta izin," kata Kakek.
    Lalu, kenapa pemerintah tidak membuat peta tata kota saat ini dan memperhatikannya? Aparat pemerintah banyak. Masih banyak pembangunan yang tidak sesuai dengan tata kota.
    "Kemana fungsi kontrol pemerintah?" tanya Si Bungsu tiba-tiba kritis.
    Kecuali orang-orang seperti Kakek kami hanya duduk-duduk saja di kantor.
    "Bangunan toh tak jadi dalam semalam," sergah Si Sulung dari arah dapur. Dia lagi bikin kopi untuk tamunya di kamarnya.


    Tapi, entah kenapa, kami merasa bersalah sekali. Rasanya ada yang kurang pada diri kami. Seperti kami baru saja menipu orang baik-baik. Seperti kami menyelewengkan kepercayaan seorang teman. Dan benar saja, ketakutan terbesar kami sebelum tidur malam ini adalah "tidak dipercayai lag oleh orang lain, terkhusus teman-teman kami."
    Kami akan hancur jika hal itu sampai terjadi.



    Related Posts with Thumbnails

    La Musica