Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label skripsi tunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skripsi tunda. Tampilkan semua postingan

Mitos Skripsi

  • Jumat, 18 Mei 2012
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • Skripsi

    1

    Saya baru saja menyelesaikan Ujian Skripsi di sebuah Fakultas Filsafat. Ketegangan menghadapi Ujian Skripsi sudah lewat—meski sebenarnya saya tidak tegang sama sekali, malahan merasa ujian ini sama seperti ujian lainnya yang bersifat presentasi kemudian tanya jawab. Jadi jika orang-orang bilang bahwa “Pas ujian skripsi keadaan jadi sangat tegang, jantung berpacu tiga kali lipat dari normal” malah saya merasa itu bohong, dan tidak berlaku pada diri saya, dan banyak kawan saya di fakultas yang sama. Jadi semua kisah tentang skripsi bisa dikatakan sudah menjadi mitos, dibesar-besarkan kemudian menjadi sugesti. Intinya adalah jika kamu sudah siap, kamu tidak akan takut dicoba. Prinsipnya kan sang dosen penguji tidak mungkin menanyakan sesuatu yang diluar skripsi kita.

    2

    Untuk sampai ke waktu “Ujian Skripsi” ini, saya menghabiskan waktu kuliah yang diperkenankan di universitas saya yaitu 14 semester alias 7 tahun. Dua orang kawan saya yang hebat, menyelesaikannya malah dalam 4 tahun pas, tidak kurang tidak lebih dan mereka mendapatkan nilai 80 untuk Skripsi mereka. Bayangkan, dalam 4 tahun, mereka bisa mengambil 144 SKS dan mendapatkan nilai A untuk Skripsi. Bagi saya, mereka berdua mahasiswa yang paling efektif dan efisien. Salah seorangnya melanjutkan S2 ke fakultas hukum di daerah Menteng.

    Dari pengalaman mereka, dan tentu banyak mahasiswa lainnya, saya yakin bahwa mahasiswa manapun bisa menyelesaikan kuliah dalam 4 tahun dan mendapatkan nilai A untuk Skripsi, sejauh dia benar-benar “mau menyelesaikan kuliah dan Skripsi” karena jika dia terus mengulur-ulur dan lebih memfokuskan diri (atas membagi waktu dengan hal lainnya) pada kegiatan “sampingan” misalnya bekerja, menaklukan cewek, aktif di kegiatan mendaki gunung, olahraga, musik, teater, dll, saya rasa akan sulit menyelesaikan kuliah dan Skripsi dalam 4 tahun pas.

    Meski saya termasuk mahasiswa dalam angkatan yang paling akhir menyelesaikan kuliah, saya tetap memberi “salut” pada diri saya sendiri karena sudah berhasil mengeluarkan diri dari DO dan itu akan membuat semua rencana saya berantakan. Apalagi saya ingin segera menikah dan punya anak (sebab saya sudah punya pekerjaan ketika saya semester 10).

    3

    Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman kuliah dan menulis Skripsi adalah “tidak membuang-buang waktu”. Sebab saya harus bertanya pada diri saya sendiri “apa yang kamu kejar?” Sebuah “Cum laude”? atau “selesai kuliah secepatnya”? Pilihan ini yang menentukan kapan saya bisa menyelesaikan kuliah dan Skripsi. Saya menutuskan untuk “selesai kuliah secepatnya” tapi mengalami “masalah keuangan” dengan Sekretariat dan itu meluluhkan semangat saya untuk menyelesaikan kuliah dan Skripsi secepat-cepatnya (ketika itu semester 10) dan saya memutuskan untuk “rehat” 3 semester, bekerja, dan menikmati hidup ketika tidak ada jam kuliah dan tetek bengek kampus yang memaksa saya harus masuk pagi-pagi, pulang petang, mengerjakan paper dan berdiskusi kelompok dengan orang-orang yang sama malasnya seperti saya, jika tidak malas, mereka sangat cerewet dan sok tahu.

    Pada semester 14 ini juga, saya tetap berprinsip menyelesaikan kuliah dan Skripsi “secepat-cepatnya” maka saya masukkan bahan Skripsi ke Sekretariat, berdamai kembali dengan orang-orang di Sekretariat, berusaha sabar dan rendah hati (demi sebuah ijazah) dan tenang menunggu jadwal Ujian Skripsi.

    Jika seorang mahasiswa sudah belajar banyak tentang bahan skripsinya, tak perlulah dia harus tegang berhari-hari selama menunggu hari H. Misalnya saya Ujian pada hari Rabu pukul 10-11 siang. Pada hari-hari sebelumnya, saya tidak “tegang” dan berusaha “memakan” semua lembaran Skripsi saya. Saya membaca dengan santai dari halaman awal sampai akhir, menulis ringkasan (hanya satu lembar bolak-balik) kemudian hanya membaca “ringkasan” itu di waktu senggang. Jadi saya tidak menciptakan kondisi “terpaksa” dan “tegang” untuk diri saya sendiri. Hasilnya, saya bisa dibilang tidak “belajar” sampai hari H, bahkan saya terlihat sibuk ngobro tentang situasi politik dan masalah keluarga dengan salah seorang kawan yang jenius, merokok dan ngeteh, mendengarkan lagu-lagu dari notebook dan membaca sebuah novel berjudul Emily of New Moon. Rahasianya adalah “tenang” menghadapi segala sesuatunya, sama seperti seorang agen profesional.

    4

    Pada waktu yang ditentukan, saya masuk ke ruang Ujian, duduk, membetulkan gulungan kemeja lengan panjang saya, meletakkan “ringkasan” di depan saya dan menunggu salah satu dari dua dosen penguji berbicara. Saya dipersilakan “presentasikan skripsi Anda dalam waktu 15 sampai 20 menit” dank arena begitu efektif dan efisiennya saya, “presentasi” itu hanya berlangsung selaman 7 menit. Kedua dosen penguji heran, saya diminta “ada yang masih kurang, dan Anda bisa menambahkannya lagi, masih banyak waktu” dan saya menambahkan yang perlu, lalu duduk tenang, mengangkat dagu dan menunggu kedua dosen penguji berbicara. Semudah itu, tidak tegang, tidak sakit perut, tidak kebelet pipis, tidak keram, tidak gagap, tidak segalanya. Ternyata semua kisah seputar ujian skripsi adalah mitos.

    45 menit sisanya, saya dicecar soal teknis penulisan dan kalimat-kalimat yang masih dibutuhkan tambal sulam dan penjelasan lebih lanjut. Kedua dosen mencoret disana-sini, memberikan tambahan dan membantu saya mengisi skripsi saya agar lebih “penuh” lalu saya dan kawan yang “menonton” diminta keluar sebentar, kedua dosen penguji akan berembuk untuk memberi nilai. Lima menit kemudian saya dipanggil masuk dan mereka dengan tenang mengatakan “Presentasi Anda kurang tapi skripsi Anda lumayan. Kami sepakat memberi Anda 72” itu artinya saya mendapat nilai B. Semudah itu. Saya keluar dan bergabung bersama kawan yang “menonton”, turun ke lantai bawah dan mendapat jabatan tangan dari orang-orang yang mengenal saya, mereka yang juga ikut ujian skripsi, dan kami berdua pergi ke warteg tak jauh dari situ, makan siang dalam hujan deras yang menghajar Jakarta Pusat, lalu kembali ke kost kawan saya itu. Disana kami merokok, ngeteh, mendengarkan musik dan sama sekali tidak membahas soal skripsi, malah kami menonton film Mission Imposible 4 dan John Carter. Semudah itu. Sesederhana itu.

    5

    Semua yang kita dengar tentang Ujian Skripsi, Dosen Killer, situasi yang menegangkan, adalah mitos dari universitas itu sendiri. Itu semua demi “memotivasi” para mahasiswa lebih giat belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi “ujian” di dunia luar yang lebih “ngeri” dari pada sejam duduk di hadapat dosen penguji. Dan saya rasa saya boleh bilang bahwa “ujian skripsi adalah satu jam kegiatan akademis yang menyenangkan selama hidup saya sebagai mahasiswa”.

    Fulcanelli

    50.Kebohongan Abang (Roro)

  • Jumat, 24 Juni 2011
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • Kami hidup dalam sebuah kebohongan besar pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar. kebohongan pertama adalah dalam diri Abang (maafkan kami Abang, sebab menyebutmu bohong). setidaknya bagi kami, Abang berbohong pada dirinya sendiri bahwa dia akan selesai Skripsi dalam tahun ini. tapi kenyataannya, awal semester ini saja, dia terlambat Mendaftar Ulang dan kena denda Rp 75.000.

    "Bapak pasti sedih, uang segitu banyak dibuang percuma," kata kami pada si Bungsu. dia berjanji tidak mengatakan ini pada Abang. dan juga pada Ibu dan Bapak jika kami sudah sampai di rumah 2 hari lagi.
    Si Bungsu: "Beban pikirannya banyak dan berat, bro. lo liat aja, dia harus selesaikan Skripsi, cari2 dosen, berhadapan sama Sekretariat yang rasis dan memikirkan masa depan bersama pacarnya."

    Kami bilang, Abang seharusnya sejak jauh-jauh hari sudah mendaftarkan namanya ke Sekretariat untuk ikut Ujian Skripsi. tapi dia terlau sibuk menulis cerpen-cerpen dan novel-novel yang tidak kelas-kelar juga itu. sedih rasanya, meninggalkan Abang di Jakarta sendirian di rumah kontrakan dan kami ber3 liburan ke kampung. dan yang menyesakkan, kami baru tahu kemarin kalau Abang belum membayar semua uang untuk Ujian Skripsinya. dan itu memungkinkan dia gagal ikut Ujian Skripsi semester depan, kasihan. tapi Abang lebih suka membohongi dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

    Pacar Abang sangat mendukungnya dan kami kasihan juga pada wanita baik hati itu, sebab dia tidak tahu Aban telah membohonginya. sekarang Abang kelihatan bertambah tua, stres. dia tidak selesai Skripsi semster ini, Bapak pasti marah besar dan itu artinya kiriman uang bulanan berhenti total.

    "Kasihan Abang. dia gak bilang-bilang sejak dulu-dulu sih. kalo kita tahu kan, kita bisa nyicil-nyicil bantuin dia."
    "Iya, bro. ntar kalo gue skripsi, lo bantuin gue ya."
    "Iya, gue juga. kita harus saling membantu, untuk itu..."

    Dan kami ber3 sepakat untuk liburan hanya seminggu. kemudian pulang ke Jakarta, membantu Abang untuk selesaikan Skripsinya. biar dia kelar kuliah. pasti kami ber3 akan sangat gembira melihatnya.

    Kebohongan Abang (Roro)

  • Selasa, 12 April 2011
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • Kami hidup dalam sebuah kebohongan besar pada diri sendiri dan orangorang di sekitar. kebohongan pertama ada dalam diri Abang (maafkan kami Abang, karena menyebutmu pembohong). setidaknya bagi kami, Abang berbohong pada dirinya sendiri bahwa dia akan selesai kuliah dalam tahun ini. tapi kenyataannya, awal semester ini saja, dia terlambat mendaftar ualng dan kena denda Rp.75.000.

    "Bapak pasti prihatin sekali, uang sebanyak itu dibuangbuang," kata kami pada si Bungsu. dia berjanji tidak mengatakan ini pada Abang. dan juga pada Ibu dan Bapak, jika kami tiba di rumah 2 hari lagi.
    Si Bungsu: "Beban. pikirannya banyak dan beratberat, bro. lo liat aja, dia harus selesaikan Skripsi, cari dosen, berhadapan sama sekretariat yang rasis dan memikirkan masa depannya sama pacarnya."

    Tapi kami bilang, Abang seharusnya sejak jauhjauh hari sudah mendaftarkan namanyake sekretariat untuk ikut Skripsi. tapi dia terlalu sibuk menulis cerpen dan novelnovelnya yang tidak kelarkelar itu. sedih rasanya, meninggalkan Abang sendirian di Jakarta dan di rumah kontrakan. sementara kami ber3 asyik pulang kampung, berlibur, liburan semster 2, 4, dan 6. dan kami baru tahu bahwa Abang belum membayar semua uang untuk ujian Skripsinya. dan ada kemungkinan dia gagal ikut ujuan Skripsi semester depan.

    "Kasihan."

    Tapi Abang lebih suka membohongi dirinya dan orang lain di sekitarnya bahwa semuanya teratasi dan finefine saja. pacar Abang sangat mendukungnya. jadi kami kasihan juga pada wanita baik hati bernama Berlian itu sebab Berlian tak tahu Abang telah membohonginya. sewaktu kami pamitan padanya beberapa hari lalu, Abang kelihatan tambah stres. jika dia tidak selesai Skripsi semester ini, Bapak pasti marah besar dan itu artinya kiriman uang bulanan dihentikan. mau hidup darimana dia?

    "Kasihan Abang. dia ga bilang sejak duludulu sih. kalo kita tahu kan, kita bisa nyicilnyicil bantuin dia,"
    "Iya, bro. ntar kalo gue skripsi, lo bantuin gue ya."
    "Iya, gue juga. kita harus saling membantu. untuk itu..."

    Dan kami ber3 sepakat untuk menghabiskan liburan bersama Bapak Ibu hanya sebentar saja. cepatcepat pulang Jakarta buat bantuin Abang biar dia cepat selesai kuliah. tuhan memberkati!

    Liburan vs Skripsi (Roro)

  • Kamis, 27 Januari 2011
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • Liburan.
    Kami lupa tapi sepertinya tiap tahun, jika liburan tahun ajaran baru, selalu lebih lama daripada liburan natal dan tahun baru. lihat asaya, kira-kira sejak akhir mei kami sudah libur dan sekarang awal agustus. tanggal 10 mulai libur puasa lagi, 17 agustus wajib libur. kata seorang saudara yang juga seuniversitas dengan Si Bungsu, "Masuk tanggal 29."

    "Gila,, liburan lama bgt. Bikin skripsi pasti udah kelar nih," celetuk Si Tengah tidak bermaksud apa-apa. tapi Si Sulung yang duduk termenung sambil pegang buku sumber utama skripsinya, Biblical Affirmation of Women, memerah mukanya seperti cabe diulek Ibu untuk bumbu daging sapi.

    Kami tak bisa komentar apa-apa lagi. melihata muka Si Sulung, yang tampak begitu malu dan putuas asa, kami, Si Tengah, dan Si Bungsu langsung hilang ke kamar masing-masing. kami takut besok hari Abang akan meminta kami 3 bersaudara, adik-adiknya, berhenti membantunya dan pulang liburan ke rumah menemui Ibu. kami tak bisa tidur malam ini. kamar di sebelah kami juga ribut-ribut seperti orang menahan tangis. apakah Abang menangisi skripsinya yang belum juga rampung selama kurang lebih 4 bulan liburan ini?

    Cari Kerja Saja (Roro)

  • Rabu, 03 November 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , , ,
  • Katanya liburan panjang mau kroyok Skripsi Abang, tapi nyatanya tidak banyak kemajuan. Abang malah tambah stres sebab anehnya dia tidak tahu jadwal kapan masuk kuliah. Kapan batas terakhir hari daftar ulang dan memasukan bahan-bahan skripsinya. Apalagi dia kehilangan nomor HP si dosen pembimbing. Di tambah, duit dari Ibu sudah dengan diam-diam dia pakai buat jalan-jalan, senang-senang main biliar bersama geng-nya.

    Galau. Getir. Takut. Cemas. Kecewa. Semua ada pada diri kami 4 bersaudara. Liburan yang jadi kacau. Apalagi di tambah, kekasih baru Abang yang sering telepon dan bilang:
    "Bantuin aku dong, say. Kerjaan menumpuk."
    Kami tidak tahu wanita itu kerjanya apa, sehingga banyak tumpukan di rumahnya.
    "Barangkali penadah koran dan barang bekas, bro?" sela Si Tengah yang sudah sebulan no contact sama si temi. Tambah cantikkah gadis itu?
    "Kacau balau. Gw rasa kaya dihimpit kayu-kayu gelondongan. males. Marah. Pengen lari ke dalam sumur biar ilang," keluh Si Sulung. Kami ber3 saudara jadi kasihan padanya. Tapi mau bagaimana? Buat laki-laki 23 tahun yang belum lulus-lulus Skripsi, Abanng harus tanggung resiko. Pertama, diuber2 pacarnya buat merit. Kedua, diancam Bapak tidak kirimin duit bulanan. Ketiga, malu sama teman2 dan kerabat di kota ini.

    "Ah, Abang. Kita cari kerja aja. kalo punya penghasilan, orang2 gak akan mandang kita renddah coz belum lulus juga skripsinya."
    "Betul, cez. Lo encer juga otaknya."
    Si Sulung senyum. Kami ber3 saudara bahagia buat dia.

    Soulmate (Roro)

  • Sabtu, 07 Agustus 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , ,
  • Aneh, kenapa Ibu tak menanyakan tentang Roro? Apakah Ibu tak peduli lagi pada pencarian akan sosok Roro yang selama nyaris 4 tahun kami berempat saudara sibuk menelusurinya? Bisa jadi Ibu mulai sadar bahwa kami berempatlah yang mesti diutamakan dari pada Roro ini. Kami berempatlah yang harus mencari sosok kami berempat sendiri. Tapi satu hal yang kami tak mengerti, jika Ibu tahu Roro itu ada dan berumur sebaya dengan kami berempat, apakah Ibu telah memperhitungkan salah satu dari kami berempat akan jatuh cinta dan mencintai Roro selama-lamanya?

    "Menurut Abang, Ibu sengaja menjodohkan salah satu dari kita sama Roro ini?"
    "May be yep may be not."
    "Ha?"

    Tapi...oh God, Ibu sakit. Sebab kami bilang kami berempat tidak bisa pulang liburan. Dia sakit sebab rindunya menggunung. Kami berdoa agar Bapak menjaganya dan menghiburnya. Bapak selalu tahu hiburan buat Ibu. Bukankah mereka harus begitu?

    Ibu atau Skripsi? (Roro)

  • Selasa, 03 Agustus 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , ,

  •  Bersambung hari kemarin. Si Sulung berkelakar, "Sesekali lo dermawan dan beli-beli barang yang diiklanin gitu. Supaya paling ngak, kita pernah ngerasain gimana enaknya jadi orang kaya dan bisa beli semua hal yang diiklanin di tivi."
    Mungkin denger kelakar itu, Si Tengah teriak dari kamarnya, "Uang bensin, bro. Eh, gw pake Pertamax neh, kan gw pinjem CBR temen Ucok."
    "Ah, lo ma enak, jalan-jalan, nampang, trus godain cewek. Siapa yang ngak pengen nungging di CBR gitu?" Si Bungsu ngeluh sebab dia hanya perlu pergi jalan kaki ke warnet Prima buat browsing. Tapi kami menguatkan kelemahannya, sebagai anak bungsu yang selalu mau dimanja. Dalam hati kami berkata, lo ngak selamanya digendong Ibu, Dek. Lo lagi merantau ini.
    Kami bilang ke Si Bungsu, "Kan gw juga di rumah aja, ngedit-ngedit. Lo ngak inget, Dek? Gw sama Abang gak jalan-jalan. Jadi lo ngak perlu merasa ngak adil kaya gitu. Demi saudara bahkan ngak adil juga ngak apa-apa. Kalo Abang Skripsinya bagus trus dilirik buat dijadiin buku, lo kan kebagian KuePiang juga."

    Petangnya Ibu menelpon. Mungkin karena saking rindunya pada kami berempat.
    "Apa kabar Ibu?"
    "Baik-baik saja. Hari apa kalian pulang?"
    "Ngak IBu. Kami harus bahu membahu menyelesaikan Skripsi Abang."
    "Baiklah. Skripsi Abang kalian jauh lebih penting. Baik-baiklah kalian di situ. Jangan mabok. Jangan ngerorok banyak-banyak. Banyak-banyak minum air putih."
    "Terima kasih Ibu. Tuhan menjagamu."
    "Begitu pula kalian anak-anakku tersayang."

    Besoknya, subuh-subuh, saudari kami yang nomor 5 mengirim sms singkat: Ibu Sakit.

    Skripsi vs Ibu (Roro)

  • Rabu, 28 Juli 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • Karena liburan kuliah maka Pencarian Roro agak mandek. Ini disebabkan oleh karena kami 4 bersaudara merindukan suasana Rumah dan pengen balik ke Kampuang Halaman.Ibu pasti merindukan kami ber-4. Dan biasanya Ibu akan jatuh sakit jika kami ber-4 tidak berlibur. Kasihan Ibu, tapi kami ber-4 harus memilih untuk tidak pulang. Ini semua demi masa depan kami masing-masing. Dan oleh karena itu juga kami mesti meninggalkan Pencarian Roro.


    Banyak hal yang mesti kami ber-4 tinggalkan. Pagi ini, udara di luar jelek, dingin, berasa seperti lagi liburan ke Mongolia. Tapi kami ber-4 berembug dan sepakat untuk mengutamakan Si Sulung dari pada kerinduan Ibu. Caranya: kami ber-4 mengumpulkan bahan untuk menyempurnakan Skripsinya. Jadi Si Tengah yang jago luntang-lantung, bertugas mencari informasi data dan fakta di jalanan. Si Bungsu yang suka komputer, browsing.

    "Dengan syarat, kalo lo buka situs porno, uang jajan lo potong buat beli buku."
    Dan kami karena menyukai seni dan sastra, bertugas ngedit-ngedit tulisan ilmiah yang udah 80% jadi itu. Untuk ini, Si Sulung rela memakai semua uang jajan sebulannya buat membelikan kami ber-3 adik-adiknya: koyo, hormoviton, vitalong C, epethonweitgeith, dan roti dari mybread.
    Rasanya, kami ber-4 tiba-tiba menjadi saudara kembar yang begitu dekat. Rasanya kami selalu saling menyayangi selama ini tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya. Tahu sendiri gimana gengsinya laki-laki. Tapi lumayan, kami ber-4 bisa melakukan satu hal terbaik yang bisa kami lakukan, itu pun kalau tidak terjadi halangan dalam menyempurnakan Skripsi Si Sulung.
    "Oke, sekarang, kita mandi antre... ntar sore baru kita ngobrol lagi."
    Abang naik ke kamarnya, kami pergi olah raga di depan teras, pura-pura olah raga supaya dilihat gadis tetangga sebelah. Tahu tidak, umurnya berapa?
    14.
    Ha?

    Skripsi yang lemah (Roro)


    Si Sulung menyambut liburan semester dengan senang sebab durasi memperbaiki skripsinya bertambah. Kami ber4 saudara-saudaranya bersukacita untuk dia dan duduk minum Teh Poci di atas tempat jemuran, kebetulan sedang banyak Teh Poci di rumah. Itu berkat kebaikan hati dan kedermawanan karib kami K Jul dan "kaka perempuan" kami Johanna Begu Israel.

    Si Tengah agak merana sebab hasil IPKnya jauh dari target 3,4 dan yang lebih membuat malu, dia pasang taruhan dengan seorang cowok tajir plus somse, "kalo IPK gw 3,4, lo gak boleh godain dan jailin si Temi lagi." Tapi sebagaimana kita semua ketahui, dia kalah. Kasihan Temi. Janji harus ditepati. Si Tengah tidak akan membela Temi secara terang-terangan. Dan apakah kisah percintaan mereka akan kandas?

    Si Bungsu lagi BT. Meski liburan ini dia banyak diajak jalan-jalan oleh teman-teman barunya. Teman-teman baru yang tiba-tiba meras harus berteman dengannya. 
    "Itu karena kau dekat sama Ibu Ratna."
    "Emangnya kenapa?"
    "Dasar Edwar Cullun, lo culun banget si. Mereka tuh mau kau promosi mereka ke itu Ibu yang kaya dan semok, supaya dapat kerja di perusahaannya dia."
    "Ah, otak lo ada-ada aje, Kak."
    "Lo liat aja ntar. Potong jari gw kalo gw salah," sergah Si Tengah. Dia emang suka taruhan. Semoga dia menang, kalo gak jarinya buntung kayak laki-laki dalam novel Bilangan Fu. Fulan. Dan tiba-tiba Si Sulung mendesis dari depan tv.
    "Gak usah taruhan dah. Ntar nyesel."
    "Penakut lo."
    "Curhat apa hancurhat tuh?"
    Si Tengah bengong, ngambek mungkin. Trus kami 3 bersaudara ngakak.
    Liburan...oh...liburan!!!!
    Related Posts with Thumbnails

    La Musica