Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label Ex-imam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ex-imam. Tampilkan semua postingan

Ex-priest confesses in nun's death case Bodily remains unearthed in seminary.

  • Kamis, 07 Februari 2013
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , , , ,

  •  
    A man claiming to be responsible for the death of three people, whose remains were recently unearthed in the compound of a seminary in East Nusa Tenggara, has turned himself in to police.
    A Sikka district police official and head of the criminal investigation unit said Tuesday that Herman Jumat Masan was in their custody and had confessed to being involved in the death of Yosefin Keredok Payong and her two children. Both children were fathered by him.
    He is now being held in the district’s police station for further legal action. We have strong evidence linking him to the loss of three lives,” the official said.
    Yosefin, whose identity was confirmed through DNA testing, was reported missing in 2002. She was a nun with the Congregation of the Missionary Sisters Servants of the Holy Spirit at the time of her disappearance.
    Her remains and those of her two children were discovered last week in the compound of a school operated by the St Peter Major Seminary in Sikka district. They have since been turned over to family members.
    The district police official said Masan arrived on Monday from East Kalimantan, where the former diocesan priest – he left the priesthood in 2008 – was employed.
    In a report on Wednesday, the Flores Pos – a publication operated by the Society of the Divine Word – quoted Masan as saying Yosefin had an affair with him while he was a priest and gave birth to their first child in 1999.
    "The boy was born alive. Yosefin and I could not bear the social stigma of this birth. I covered his mouth. Eventually he died and I buried him in front of the house in Lela,” Masan told Flores Pos, referring to a facility operated by St Peter Major Seminary.
    The second birth took place around March 2002. The mother could not deliver safely because the placenta could not come out. So both mother and baby died,” Masan told Flores Pos.
    He said he had asked Yosefin to go to hospital but that she had refused.
    I dug their graves myself while other community members were attending an event,” he said.
    From the deepest part of my heart, I deliver my apologies to the victims’ family and all related parties for the case I am now facing. I’m ready to take responsibility.”
    According to Flores Pos, Masan at the time of the deaths was serving as a priest in Larantuka diocese and also held the post of associate at the seminary's school.

    #1 Lihat perbedaan pemberitaan antara Koran local dan website Ucan India ini? Apakah HJM membunuh tiga orang atau malah hanya satu, dan itu dilakukan berdasarkan kemauan ia dan pasangannya? Hal semacam ini juga terjadi pada banyak pasangan yang belum siap, semacam aborsi dalam bentuk lain. Diharapkan berita yang jelas dan berimbang, agar masyarakat tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

    Pelaku Pembunuhan Merry Grace Menyerahkan Diri


    Pelaku Pembunuhan Merry Grace Menyerahkan Diri

    HJM, pelaku pembunuhan Yosephina Keredok Payong alias Merry Grace (30), menyerahkan diri di Polres Sikka, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/2/2013). Dia menyatakan bertanggung jawab atas perbuatannya.
    HJM terbang dari salah satu perusahaan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, langsung menuju Maumere. Niko (54), kerabat HJM, mengatakan, ketika pihak keluarga menghubungi HJM, ia langsung mengatakan siap pulang ke Maumere untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
    "HJM akan didampingi pengacara. Sekarang kami sedang mencari pengacara. Kami serahkan semuanya pada proses hukum," kata Niko.
    Sementara itu, orangtua korban dan saudara korban sudah tiba di Maumere. Mereka hadir untuk mencocokkan darah dan rambut dengan gigi dan tulang Merry Grace sesuai hasil tes DNA.
    Merry Grace diduga dibunuh HJM pada tahun 2002 di Desa Lela, 25 km arah barat Maumere. Namun, kasusnya baru terungkap pekan lalu setelah saksi kunci bernama Sofi melaporkan kasus ini kepada keluarga Merry Grace.
    Sofi adalah mantan pacar HJM. Karena HJM tidak bersedia menikahinya, ia pun melaporkan perbuatan HJM itu kepada polisi dan keluarga korban. Pembunuhan itu diduga dilatari motif asmara.

    Kerangka Merry Grace Diserahkan Kepada Keluarga


    Kerangka Merry Grace Diserahkan Kepada Keluarga

    Kerangka Merry Grace dan dua bayinya diserahkan pihak Polres Sikka ke anggota keluarga untuk disemayamkan di kampung halaman korban, Lewoblolon, Desa Tanah Boleng, Pulau Adonara, Flores Timur, NTT.
    Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Sikka, Ajun Komisaris Achmad, di Maumere, Selasa (5/2/2013), mengatakan, kerangka tulang Merry Grace atau Yosephine Keredok Payong bersama dua bayinya telah diserahkan ke keluarga, Minggu (3/2/2013) lalu.
    Kerangka itu sebelumnya disemayamkan di Markas Polres Sikka, dan dipastikan milik Merry Grace dan bayinya, yang dibunuh HJM, pada tahun 2002 di Desa Lela, 25 km arah barat Maumere. Kasusnya baru terungkap pekan lalu, setelah saksi kunci bernama Sofi melaporkan kepada keluarga Merry Grace.
    Sofi adalah mantan pacar HJM. Karena HJM tidak bersedia menikahinya, Sofi pun melaporkan perbuatan HJM itu kepada polisi dan keluarga korban. Pembunuhan itu diduga dilatari motif asmara. 



    Avram ben Naphtali

    Herman J Masan, Tersangka Pembunuhan Merry Grace?


    Herman J Masan, Tersangka Pembunuh Merry Grace

    Herman Jumat Masan (45) telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Sikka, NTT, dalam kasus pembunuhan Merry Grace dan dua orang bayinya, yang merupakan hasil hubungan intim antara pelaku dengan korban. Ketiga korban dibunuh di Desa Lela, 25 km arah barat Maumere, Flores, pada tahun 2002.
    Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Sikka, Ajun Komisaris Achmad, di Maumere, Selasa (5/2/2013), mengatakan, hasil pemeriksaan polisi menunjukkan pelaku mengakui sebagian perbuatannya tetapi menolak sebagian lainnya. 
    "Kami telah periksa pelaku, begitu turun dari pesawat. Kami jemput dia, yang baru datang dari Kalimantan, bekerja di sana. Dia sudah menjadi tersangka," kata Achmad.
    Herman Jumat Masan diduga membunuh tiga nyawa, yakni Merry Grace dan dua bayinya. Kasus ini sendiri baru terungkap pekan lalu setelah saksi kunci yang bernama Sofi melaporkan kasus ini kepada keluarga Merry Grace.
    Sofi adalah mantan pacar HJM. Karena HJM tidak bersedia menikahinya, ia pun melaporkan perbuatan HJM itu kepada polisi dan keluarga korban. Pembunuhan itu diduga dilatari motif asmara. Kemarin, orangtua korban dan sebagian warga ada di Polres Sikka, menyaksikan proses pemeriksaan terhadap Herman Jumat Masan. 

    Tanggapan:
    #1 Benar-benar menarik karena pembunuhan ini terpendam selama sepuluh tahun. Padahal daerah Flores, meskipun bergunung, berlembah, dan berhutan, masyarakatnya saling memperhatikan, dan tentu saja tidak ada gossip atau sesuatu yang mencurigakan yang luput dari perhatian orang-orang yang sangat social dan punya rasa ingin tahu yang besar ini. Banyak pembunuhan telah terjadi di Flores, tapi itu mungkin bisa dihitung dengan jari—kecuali pembunuhan yang terjadi karena perang tanding—dan tidak terlalu mengejutkan seperti yang kali ini.
    #2      Kasus ini menjadi istimewa karena melibatkan mantan imam dan mantan suster—meskipun begitu kita tetap harus memandang mereka sebagai manusia normal seperti kita—yang diharapkan tidak terlibat hubungan asmara apalagi sampai berujung pembunuhan. Pasti banyak gossip yang mulai menyebar, banyak kata-kata menghina untuk pelaku dan korban, meski begitu, dari kasus ini kita semua, terkhusus umat Katolik dan masyarakat Flores, bisa belajar bahwa imam dan suster bukanlah dewa. Perlakuan masyarakat Flores kepada imam—suster tidak terlalu—sebagai manusia yang levelnya lebih tinggi ini, bagi saya, kadang menyebabkan masyarakat Flores menutup mata dan permisif terhadap “kasus-kasus” serupa—meski tidak melibatkan pembunuhan.
    #3      Kasus asmara, hubungan intim seperti ini bukanlah suatu hal yang baru, mengingat banyak kasus yang sudah terjadi sejak dulu, dan sebagian besarnya tidak diungkap karena menjaga nama baik agama dan imam. Dengan terungkapnya kasus ini, semoga para imam—dan suster(mohon maaf, saya melihat suster sebagai korban laki-laki)—yang “pernah” melakukan hubungan asrama, sedang, dan yang berniat, dimohon menahan diri. Memang tidak bisa menghilangkan nafsu seks, tapi bukankah setiap orang punya pilihan menjadi baik dan buruk? Kalau hendak menjadi imam—atau suster—tanggung juga konsekuensinya. Atau jika sudah melakukan, atau berniat melakukannya, bersikaplah jantan dengan mengundurkan diri lalu menikah saja. Simple kan?
    #4      Ini adalah gambaran kelemahan gereja dan otoritas gereja di Flores. Semacam koin bermata dua. Di satu sisi terkenal religious sementara di sisi lain menyimpan “penyimpangan” yang “mengerikan”. Ayo, otoritas gereja dan masyarakat saling terbuka, bekerjasama, jangan lagi menganggap pelajaran seks dan relasi social antara perempuan dan laki-laki sebagai hal yang tabu. Siapa tahu dengan saling terbuka dan mengenal satu sama lain, kasus-kasus serupa bisa diminimalisir. Sebab saya tidak yakin kasus semacam ini bisa dihilangkan. Ini sudah semacam budaya. Kalau di setiap keluarga ada “cacatnya”, siapa yang akan merasa malu lagi jika melakukan “cacat” yang sama?

    Avram ben Naphtali
    Related Posts with Thumbnails

    La Musica