Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label budaya urban yang menggelikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya urban yang menggelikan. Tampilkan semua postingan

Berdoa+bonsai (Roro)

  • Kamis, 29 April 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,

  • 76

    Kami merasa malu pada diri sendiri, juga pada tetangga sebab mereka begitu rajin pergi sembahyang di musollah atau masjid di kompleks ini, sementara kami, sudah nyaris 1bulan lebih tidak ke Gereja. Padahal dalam seminggu kami cuma pergi mengikuti Ekaristi pada hari Sabtu atau Minggu, pagi atau sore. Biasanya ada 5 perayaan Ekaristi dari Sabtu hingga Minggu. Dan kami cuma milih satu saja dari antaranya.
    "Gitu aja susah, heran deh," celetuk seorang tetangga, si ibu langsing yang suka menyiangi rumput dari pot-pot bunganya. 

    Kami merasa tersinggung. Sangat tersinggung. Tapi ternyata si ibu langsing sedang mengajari putrinya memangkas bonsai. Sementara kami tidak memangkas apa-apa. Kami juga hanya duduk melihat-lihat orang-orang berkegiatan. Kami memang sedang malas. Bahkan untuk berdoa kepada Tuhan yang sudah memberikan kami semua hal yang indah di dalam hidup kami.

    "jangan sampai ketahuan, Ibu," kata Si Sulung.
    "Aku paling takut kalo ketahuan Bapak," timpal Si Tengah.
    "Kakek juga bisa berang, cez," seloroh Si Bungsu.
    Tapi kami berjalan ke belakang. Mandi dari selang air tanpa menanggalkan pakaian. Kemudian kami buka pakaian itu satu persatu hingga telanjang. Handuk kami lilitkan di badan, bulu dada tersisir air dengan rapi. 

    "Mau kemana lo?"
    "Liat aja ntar."
    "Gw juga mw mandi nih."
    "Mu ngapain lo?"
    "Mw sembahyang."
    "IKUT!!!!"
    Kor dari ruang tengah membahana mengisi otakku.

    Limabah+pabrik (Roro)

  • Kamis, 22 April 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 70

    Anehnya kami, biar telah merasa bersalah semalam karena pulang subuh-subuh ke rumah, paginya malah tidur terus sampai jam 2 siang. Orang harus mengbangunkan kami berulang kali. Suasana akan menjadi sepi, ketika di luar hujan dan bau tanah menyentuh hidung. kami tarik tempat jemuran ke dalam lindungan atap kanopi teras belakang... dan mandi. Air tidak lagi dingin. Lama kami mandi hingga kami merasa puas bermain air. Teringat kami lagi bagaimana dulu sring mandi di kali di ujung kampung. Kali itu mestinya sekarang sudah kotor dan tercemar sebab dia menggambarkan bahwa 2 buah Baja Ringan telah beroperasi selama 8 bulan. Kami sarankan Ibu jangan pernah menyentuh air itu.
    "Terpikirkan oleh Ibu untuk bilang pada tetangga lain," balas Ibu. "Tapi itu air mereka. Sudah lama mereka hidup dari situ. Sekarang air PAM macet-macet. Dan kalian tahu sendiri, orang seperti Mak Paun tidak punya keran air PAM, juga banyak keluarga lainnya."
    "Nah, oleh karena itu, Ibu yang mesti membantu mereka. Bapakkan punya bak penampung besar. Mereka bisa ambil air di situ dengan bayaran murah. Bukankah mereka itu sanak saudara kita?"
    "Tidak segampang itu meyakinkan mereka. Jalan keluar terbaik adalah membersihkan sungai itu dari limbah pabrik," kata Ibu dengan yakin, sama tak yakinnya seperti kami tang sekarang tengah membayangkan limbah kimia itu sedang terapung-apung di permukaan air sungai, di bawa kemana-mana, melukai apa saja yang dilaluinya.
    "Apalagi sekarang ada masalah soal penimbunan minyak dan gula pasir. Jangan-jangan Ibu dan Bapak dikira menimbun air dan menjual demi keuntungan. PAM bisa marah."
    "Makanya mereka juga mesti cari jalan keluar untuk orang-orang seperti Mak Paun."
    "Pipa-pipa air itu dihitung dengan rupiah, anakku."
    "Memang ironis, Ibu. tapi Ibu mesti bantu mereka."
    Setidaknya kalau mereka kekurangan air bersih, suruh mereka datang ke rumah. Tuhan pasti membantu mensosialisasikan bahaya memakai air dari sungai.
    "Semoga begitu, anakku." Dan tiba-tiba dia bertanya dengan memelas, "Roro?"
    "Ibu--"
    "Yah."
    "Nyaris mustahil."
    Tapi kalimat itu tak kami katakan. Kami simpan dalam hati dan berdoa agar Tuhan juga membantu kami menemukan Roro--demi Ibu? Siapakah sebenarnya Roro ini? Sanak saudara Ibu dan Bapak yang hilang? Atau cuma iseng-iseng Ibu belaka?

    Bir+kacang (Roro)

  • Rabu, 10 Maret 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • 66

    Beberapa laki-laki bertubuh tinggi besar (belum tentu perutnya kotak-kotak) berada di depan meja bar dari kayu oak di dalam sebuah bar yang hangat dan gaduh dikunjungi jika sudah tengah malam. Para ladiez akan keluar dengan kostum ala catwomen dan menari-nari di atas permukaan kayu meja bar itu. Seorang laki-laki berkumis pamitan pada temannya untuk pergi pipis di toilet. Dia kembali dan langsung meraup kacang di piring kecil dan meneguk bir dari botolnya.
    Kacang ditambah lagi ke piring. Mereka mengambil dan mengunyah dengan rakus ditemani teguk-teguk ringan bir dingin.

    Kami tertawa mengomentarinya.
    "Kalian pasti masih ingat perempuan pelayan bar pergi ke sudut dan berbicara dengan salah seorang penari yang baru tiba." Si Bungsu ingat betul adegan itu.
    "Dengan jelas, Kawan."
    "Perempuan penari itu menatap ke arah laki-laki di meja bar dan bilang dengan meremehkan, 'tolol, semua laki-laki tolol. Setelah mereka pegang penisnya di toilet, mereka meraup kacang dengan tangan yang sama.'"
    "Dan pelayang bar tergelak, 'mereka berbagi penyakit satu piring kecil. Tahukah kau toilet kami airnya mati dan aku belum mengganti tisu baru?'"
    "Kalian pasti lupa kalau si penari melambaikan tangan pada seorang laki-laki di meja bar dengan genit dan semua laki-laki di sana memasukkan telunjuk mereka ke dalam mulut mereka seolah-olah--"
    "Kau lupa kita ngak bisa soal seks?" kata Si Sulung.
    "Tapi adegan ini menggelikan dan konyol sekali, sayang dilewatkan."
    "Yah, entah berapa juta laki-laki telah makan kacang dari piring kecil yang sama. Penari itu bahkan menghindar ketika para lelaki itu memasukkan pecahan 1 Dollar ke belahan dadanya."
    "Gw tau adegan itu tapi demi anak-anak balita, gw gak membicarakannya," Si Tengah berceloteh sok alim.
    "Dasar munafik."

    Tidak sampai bertengkar atau adu jotos. Kami berempat habiskan bir dan kacang dengan hati-hati dan turun untuk tidur di kamar masing-masing. Yang kami pikirkan, sesudah di kamar sendiri, malam ini hanyalah menemukan nama Rara atau Roro di salah satu dari ratusan papan pengumuman di universitas kami. Sebelum terlelap, kami mendengark telepon rumah berdering dan semua orang berlomba mengangkat gagangnya.
    "Dari Ibu. Tumben, malam-malam," kata Si Sulung pada kami.
    "Trus kau sudah mencuci tanganmu sebelum pegang itu telepon?"



    Mading+pencarian (Roro)

    65

    Rapat di atas loteng tempat jemuran pakaian itu berlangsung seru. Selama dua jam akhirnya kami berhasil menyususn strategi. Mulai besok, kami berempat berpencar menyortir nama-nama di papan pengumuman, mading, atau papan apapun di seluruh fakultas di universitas kami berempat.
    "Pokoknya yang ada Roro-nya."
    "Juga rara, sebab dalam bahasa Jawa, Roro ditulis Rara."
    "Aksara Jawa."
    "Apalah..." timpal Si Tengah.
    "Otakmu cerdas juga...belajar sama Temi ya?"
    "Ngak. Temi ga bisa ngajarin soal itu," tukas Si Tengah lagi.
    "Oh...kalau soal frenckiss, dia bisa ya?"
    "Kita ngak bahas soal itu, bego," Si Tengah berani menyerang Si Sulung.
    "Marah artinya betulllllllllllllllllll."
    "Terserahmulah!" akhirnya Si Tengah nyerah.

    Olok-olokan terus bergulir, meski kadang jengkel, kami berempat patungan juga buat beli bir bali hai dan kacang dua kelinci yang bungkus gede itu. Bicara sambil minum dan ngunyah sesuatu rupanya lebih hangat dan terus terang saja, melancarkan nalar yang kusut.
    Memandangi kaleng bir yang diremas lepes oleh Si Bungsu dan kulit kacang ini membuat kami teringat pada salah satu adegan film Hollywood. Adegannya begini:


    Transform+girlz (Roro)

    64

    Tadi, kami jalan-jalan tak tentu arah gitu...
    Kami melihat seorang gadis yang kami ingat dulunya berambut merah dan digulung-gulung..Ibu selalu bilang itu rambut yang "dicroll" bagian ujung-ujungnya. Sekarang rambut yang sama sudah hitam legam. Penampilannya memukau. Dan kami pandangi dari samping setiap kali ada kesempatan. Dia sedang berbicara dengan temannya mungkin. Sedangkan kami...sedang makan malam. Tiba-tiba kami jatuh cinta padanya? Lalu bagaimana dengan Roro?
    "Tetep."
    "Apanya?"
    "Ya, tetep cinta."
    "Ketemu aja belon..."
    "Aku percaya pada Ibu."

    Cina+wanita (Roro)

    63

    Orang ini membangkitkan simpati, rasa sayang, seperti kami sayang pada Ibu. Seperti kami suka memanjakan adik perempuan kami. Seperti kami ingin selalu dekat kakak perempuan kami. Seperti kami selalu girang jika berkumpul bersama sepupu-sepupu perempuan kami.
    Dia menatap mata kami lebih sering dari pada menatap mata suaminya atau adik iparnya, yang sebaring dengan kami. Mungkin dia melihat sesuatu di dalam mata kami. Kami ingin katakan padanya bahwa dia adalah:
    "Keluarga kami."
    Dan kami adalah orang-orang yang menyayanginya dan memahami keadaannya. Kami adalah generasi baru yang bukan lagi anak-anak generasi rasialis. Kami tak bangga pada darah yang patriotis tapi iblis. Dulu Kakek bercerita:
    "Saya itu bergerilya mengusir penjajah yang menginjak harkat dan martabat kemerdekaan kita. tapi sekarang orang-orang mau membangun kolonialisme modern satu terhadap yang lain."
    "Siapakah orang-orang itu, Kakek?"
    "Orang-orang setanah air."
    Kami mulai menjadi sakit. Kami mulai menjadi derita. Dan kami pengen lari dari negri ini, menetap di Mars atau galaksi lainnya. Kami bukannya takut mati, tapi kami benci melihat orang-orang tak berdosa dimakan iblis primordialis.

    Cina+primordialisme (Roro)

    62

    Jalanan Jakarta sumpek tapi manusia masih semangat berlalu lalang. Jadi teringat sebuah film jadul yang mengisahkan segerombolan penjahat menjarah kota dan memperkosa orang, bahkan laki-laki dan anak-anak sekalipun. "Mereka itu maniak."
    "Tahu dari mana kamu?"

    Seorang teman kami mengatakan bahwa dia tidak terlalu bersimpati pada orang Cina. Dia memang tidak selalu bersimpati pada orang etnis lain: misalnya Arab atau Kaukasia. tapi buat dia, etnis Cina terlalu menempatkan dirinya di sisi terjauh dari kehidupan dalam masyarakat. Tentu saja tidak semuanya benar, tapi kami mendengarkan saja. Sebab dia menawarkan sebungkus cigarette gratis dan sukun goreng ditemani kopi pekat dari kampung halamannya. "Tak usalah kau bersusah-susah mengira-ngira bervarian apa kopi itu dan apa nama kampungnya."
    "Why?"
    "Supaya kau tidak aku bilang primordialis."

    Dan ceritanya begini: hari ini, lupa hari apa, kami terburu-buru ke kampus. Masuk ke ruang kuliah dan terkejut sebab bukan dosen kami yang muda dan berbahasa bagus itu yang berdiri di depan whiteboard, tapi beberapa orang cina, dan rasanya ruang kuliah itu langsung penuh. Seorang laki-laki cina, ternyata suami dari wanita cina yang duduk di baris sebelah kami, memulai pembicaraan. "Dia yang kasih seminar?"
    "Kayaknya. Why?"
    "Gpp."
    Mengalir cara bicaranya. Dan di tengahnya dia menyinggung sedikit saja: "kerusuhan may." dan kami jadi kesal pada negri dan orang-orang dimana kami lahir dan disebut sebagai anaknya. Ketika si istri di daulat untuk berbicara, dia tak sekalipun menyinggung soal diskriminasi rasial dan sebagainya.
    "Padahal kalau mau dicermati, setiap etnis yang mengaku sebagai pemilik atas negri ini pun terus diskriminatif rasial satu sama lain."
    Namun dalam suaranya, pada wajahnya, pada gerak tubuhnya, kami mendengar kesedihan yang mendalam. Dan kami tak bisa berkata apa-apa lagi. Kami ingin keluar dan menemui teman kami yang tidak bersimpati pada orang cina itu.


    Nasionalisme+indonesia (Roro)

  • Jumat, 19 Februari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 61

    Si Sulung masih di kamar mandi. Memang kalau mandi, dia suka lama. Gosok apa aja zi? Si Tengah selalu saja bertanya dengan kesal, sementara badannya gerah dan mukanya kusut. Tapi hari ini, petang ini, kami ingin berbicara dengan tamu-tamu kami yang hebat sekaligus tidak hebat. Izinkan kami sebutkan nama-nama itu: Nama-Yang-Ingin-Kau Sebut atau Kau-Tentu-Tahu-Namaini: Juls, Niklas, Changk, Batokx, dan Zammy.
    Mereka berlima datang siang tadi. Agak lusuh zih, tapi tak apa-apa, mereka adalah manusia-manusia dari stok yang paling baik dan gres. Lihat saja kalau kau ingin!

    "Gw lahir di Indonesia," kata Juls membuka. Dia ini orang paling tinggi dan paling berbobot badannya, juga tak menyentuh rokok. Tapi tentu saja dia bukan yang paling pintas sebab nama kedua masih harus dilangkahi dulu. Hahahahahahaha...kami tertawa dengan lelucon sendiri.
    "Gw punya nama belakang asli Indonesia," tambah Niklas, orang yang digadang-gadang paling pintar tadi. Tapi kau harus menguji kepandaiannya dulu, tentu saja, apakah dia tahu siapa pencipta teleskop? Tapi jangan coba-coba tanyakan pada manusia ketiga nanti, dia lebih suka sajak dan puisi juga bola kaki. Klub kesayangannya Chelsea.
    "Ga ada sedikit pun darah dari negara lain yang mengalir dalam nadi gw," timpal Changk sambil membuka baju dan menyampirkannya di gantungan "tali kambing" di balkon kami. Tapi apakah sosok yang keempat nanti benar-benar asli Indonesia? Bukankah dia mirip-mirip orang Kanton?
    "Tapi gw tetep ga pernah ngerasa memiliki negri ini," ucapnya dengan getas, seakan ada kesedihan yang gairah pada negri ini dalam getar suaranya. Dialah Batokx. Temen-temen masih mengira dia pemuda dari Filipina, sebab kata orang-orang dia bernama belakang Filipino. Ow, benarkah begitu? Tapi mari kita lihat KTP-nya. Nah, orang terakhir ini yang lincah mengenai KTP dan tetek bengek lainnya, sebab dia punya daya ingat dan suka mencari tahu yang tinggi. Duduk dengannya sehari, kau akan merasa belajar dari 100 profesor dari Yale.
    Zammy mengeluarkan sebungkus rokok. "Tapi orang-orang dari negara lain ga kenal siapa gw, waktu gw jalan-jalan ke Singapur."

    Jadi kami pikir: berbeda sekali dan bersyukur sekali mereka yang lahir di negara-negara bukan Indonesia dan memiliki nama belakang sesuai bahasa setempat. Jerman, Brazil, Arab, Israel, Thailand, Filipina, Malaysia. Di Indonesia, kami hidup bersama orang-orang yang secara "setengah-setengah" menganggap kami salah satu dari mereka. Dan oleh karena itu, orang asing akan sangat terkejut dan bertanya pada Si Bungsu:
    "Kau benar-benar asli Indonesia?"
    "Memang, kami tidak mempunyai ciri-ciri fisik yang jelas dan ini diperparah dengan isu rasial yang terhembus kencang akhir-akhir ini."

    Dan Juls angkat bicara lagi, setelah hening yang galau. 
    "Di negara lain, isu rasial, dalam tanda petik memang seharusnya. Misalnya orang Prancis dan imigran dari Afrika. Memang nenek moyang keduanya lahir di tanah yang berbeda."
    Niklas mulai greget dengan pembicaraan petang ini, meski kopi pekat panas baru disajikan oleh kami.
    "Tapi di Indonesia, kau lahir di suatu pulau di sini, tapi kau tetap kena isu rasial oleh dan dari orang yang lahir di suatu pulau di negri ini juga."
    Changk sedang sibuk membagikan gelas kopi. "Itulah kenapa orang asing menertawakan kita dan menganggap kita manusia primitif."
    Batokx seakan baru muncul dari bunker persembunyiannya. Dengan diam-diam dia menyalakan cigaret dan menyeruput kopi. Melepuh sudah lidah dan bibirnya. "Tapi, gimana pun  juga mereka yang rasis dan memprovokasi isu rasial demi alasan apa pun, bahkan demi melindungi Tuhan dan agama atau HAM, adalah orang yang perlu dibantu untuk keluar."
    Maksud lu apa zi, Tokx, ga jelas banget deh.
    Zammy melancarkan pukulan terakhirnya. "Mereka perlu dibimbing keluar dari dunia yang semu itu."
    "Dunia yang picik, Bro!"
    Ah, itu suara cempreng jelekx dari abang kami, Si Sulung, yang baru keluar dari kamar mandi. Tahu apa lu?


    Rasist+nasionalist (Roro)



    60

    Dan hari ini kami temukan lebih banyak lagi, mereka itu tersebar di hampir semua tempat umum dan ruang-ruang yang kami pergi. Misalnya, orang bersalaman atau berjabat tangan dengan menyentuh ujung kuku saja tanpa melihat ke wajah. Orang cenderung berprasangka bahwa seorang dewasa berkulit sawo matang, menggendong anak kecil berkulit langsat dan bermata sipit adalah penculik. Dan kemudian mereka jadi senang dan tertawa karena ada kasus di TV, seorang berciri-ciri seperti kami memang penculik, kemudian generalisasi pun terjadi dengan gampangnya.

    "Saya tahu orang seperti itu memang jahat," dan menerangkan ciri-ciri fisiknya adalah kebahagiaan terbesarnya.
    Kami sangat benci sifat orang seperti ini. baik si penculik maunpun korban. Orang-orang dengan mudah mencari pembenaran diri dengan menyalahkan orang lain. Padahal, berapa ribu sih, anak-anak yang diculik dalam setahun? Mengingat jutaan bayi lahir tiap minggunya. Itulah pentingnya ayah dan ibu "di rumah" dalam artian mereka tidak kehilangan kontrol pada anak-anaknya. Sebab sungguh tolol berprasangka pada orang asing yang berciri-ciri fisik tertentu...
    "Sementara kau membiarkan anak-anakmu di"jaga" oleh lebih banyak orang asing yang juga berciri-ciri tertentu."
    "Hari gini, masih rasis?"

    Stttttt...."Ataukah kau berniat menumpahkan lebih banyak darah tuan dan nyonya rasis?"

    Evolusi+semu (Roro)

  • Jumat, 12 Februari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • 58

    Kami berharap Roro...dengar bahwa kami mencarinya!

    Hari ini ada sesuatu yang masih ingin kami omongkan menyangkut masalah teori evolusi kemarin. Menurut kami, salah satu sisi teori evolusi mengatakan bahwa semakin jauh ras manusia dari nenek moyangnya, (dalam semua bidang dan dirinya sendiri secara fisik)semankin rapuh dan "Kurang manusia."
    "Eh, ngomong ape zi lu?"
    Sehingga dengan kehilangan kekuatan pada dirinya sendiri dan alasan-alasan dan faktor-faktor yang dikemukakannya adalah kekuatannya. Menjadi semacam kekuatan semu.
    "Bagaimana mungkin kau bisa menjelaskan kekuatan semu itu kayak apa?"
    "Gampanglah, Bang."
    "Cuba..."
    Bagaimana kalau kami bercerita pada orang-orang yang dekat dengan kami bahwa kami sedang mencari Roro agar mudah menemukannya? Tapi apakah Ibu setuju? Mestikah kami menelpon dan mengganggu tidur siangnya?
    "Coba..."

    Primitif+Primera (Roro)


    57

    Kami sebenarnya benci membeberkan hal ini pada orang lain yang menyebalkan itu. Bahwa Teori Evolusi Antonini Ramon mengatakan dengan jelas, rasa manusia yang semakin jauh fisiknya dari nenek moyangnya...
    "Emang nenek moyang kita siapa sih, Bang?"
    "Simpanse."
    "Ah, sok tahu lu, bego...nenek moyang kita ma ikan," lawan Si Sulung. "Ikan itu hidup di aer anget trus bermigrasi ke darat menjadi semacam kadal-kadalan dan dari situ punya apa yang kita miliki sekarang ini."
    "Jadi dulu mereka ga punya penis ya, Bang?" Si Bungsu masih bertanya, percaya banget dia sama abang kami yang sulung. Bah...!

    Nenek moyang kita itu ras manusia yang paling hebat tangguh, dan fight. Tapi semakin hari ras manusia yang semakin jauh dari nenek moyangnya, dalam bentuk apapun (yang bangga akan kemodernannya) adalah ras manusia paling rapuh dan menjadi kantong-kantong kerusakan baik bagi manusia itu sendiri, tumbuhan, maupun binatang. Juga material lainnya.
    "Bagaimana dengan para Elf?"
    "Kebanyakan baca Eldest lu, cong."
    Maka menurut Teori Evolusi Antonini Ramon yang terbaru, ras manusia yang ada di pertengahan:
    A-->B-->C (kasih lingkar di B, kawan) adalah ras manusia yang terbaik saat ini. Mereka adalah kumpulan manusia yang akan menyelamatkan dunia. Dan mereka ini adalah orang-orang yang sering kami cap PRIMITIF!

    "Lalu gimana dunkz, Bang?"
    "Mulai hari ini, lu ga boleh menghina dan memandang rendah orang-orang dari suku-suku primitif."
    "Kenapa emangnya, Bang?"
    "Karena bumi dan jiwa dari mother earth ini di jaga oleh mereka-mereka itu. Ga ada mereka, lu udah mati kemaren-kemaren kali, Dek."
    "O........begitu. Oke de, Bang!"
    Ah, menjengkelkan sekali, dialog Si Bungsu dan Si Sulung mengganggu persiapan presentasi kami buat besok di depan ratusan kakak tingkat di kampus. Ah, pengacau lu semua!

    Keperawanan+satria (Roro)

  • Rabu, 10 Februari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 56

    Itulah kenapa kami menyukai cerita epic, kolosal, karya sastra purba, misalkan Ramayana, Mahabharatta, dimana para gadis dari yang paling miskin sampai yang paling tajir; dari yang paling jelek sampai yang paling cantik. Bahkan yang belia sampai yang pantas dipanggil nini, menyerahkan keperawanannya dan mempertahankan cintanya pada seorang pria, pria yang berenergy, berjiwa patriotis, nekat  membela wanita yang dicintainya itu dengan fight. Laki-laki atau wanita yang tidak fight tidak pantas bersatu di dalam rumah tangga.
    "Kenapa emangnya, Bang?" Ah, Si Bungsu nongol lagi. Cp d....
    "Karena_"
    Menyebalkan sekali tahu bahwa orang yang baik-baik, harmonis, ternyata tak bisa fight untuk pasangannya dan untuk anaknya. Inilah suami omong kosong dan istri mulut besar.

    Kemudian suatu hari yang cerah tapi di kejauhan sana mendung merayap dengan pasti, seakan mau mengatakan bahwa, tunggu aku di situ, aku tak akan lama. "Ih, ujan, bikin males kemana-mana aje."
    Kami membuat wawancara televisi rekayasa di rumah Temi, sebab dia seorang wanita yang menggembar-gemborkan bahwa dia FEMINIS pemula alias amatiran.
    "Tapi yang penting dia feminist kan?" Bela Si Tengah.
    "Mentang-mentang gebetan lu_"



    55

    Orang-orang yang hebat, penulis buku-buku laris, penerima penghargaan, kaya raya, dan jadi begitu aristokrat dari kata-kata di bukunya, mengatakan bahwa, "Cinta adalah dasar membangun rumah tangga. Musyawarahlah agar dapat membagi tugas dengan baik. Pengertian supaya tidak menyinggung perasaan. Jangan cemburu buta. Dan dewasalah." Dan tentu saja masih banyak hal positif lainnya.
    "Misalnya?" tanya Si Sulung. Ih, tiba-tiba ini orang muncul...dari mane lu?
    "Oh, misalnya, bilang ke pasanganmu: kamu cantik hari ini. Aku mencintaimu. Aku selalu rindu padamu."
    Beri dia kejutan, makan malam romantis, foreplay yang nyaman dan hot, dan begitu banyak hal lainnya. Tapi terus terang saja, kami menganggap itu semua omong kosong BESAR.

    Relasi seperti itu adalah relasi yang menggelikan. Menjijikan. Relasi yang entah datang dari langit atau lubang mana, berhasil menipu manusia yang suka akan kegemerlapan dan mendambakan tipuan.
    Tiba-tiba Si Tengah melompat dari lantai dua ke lantai satu, jatuh di atas bantalan yang disusun di atas dudukan sofa gemuk. Jadi dia tidak mati. Kemudian dia mengambil microfon dari tangan kami dan bernyanyi:
    "Dasar sebuah rumah tangga adalah tenaga_energy_ketahanan fisik."
    "Lu kate ini mau pergi perang di Somalia?" Si Bungsu melemparkan pertanyaan cemooh. Dia lagi bikin susu cokelat, sebab Ibu terus memaksanya minum susu itu biar cepat gede kayak abang-abangnya.
    "Pada urutan kedua ada "patriotisme"_posesif dan protektif." Yang ketiga, "ada banyak referensi iptek di kepala suami-istri."
    Jika tidak, lebih baik dia single sampai hari matinya. Sebab jika mereka tak memiliki, minimal yang pertama dan kedua, mereka tidak mungkin bisa saling memberi dan menerima. Supaya mereka dapat berelasi dengan baik dengan anak-anak mereka.
    "Oh, begitu toh?" pertanyaan sela Si Sulung itu bikin jengkel aja.
    Jika suami istri hanya punya apa-apa yang dikatakan buku-buku laris itu, mereka sebaiknya tidak perlu punya anak dan tidak layak mengadopsi anak orang, sekalipun anak orang tak mampu. Sebab dampaknya akan begitu besar untuk kerapuhan generasi kemudiannya dan ras manusia akan menjadi ras paling menyedihkan yang pernah hidup di muka bumi ini.

    suami-istri+lemah (Roro)

  • Senin, 08 Februari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 54

    Inilah hidup. Dan justru orang yang 1per4 seperti kami ini yang tak banyak menikmati kemudahan yang diberikan dunia dalam banyak hal. Kami akan hilang tak bernama, dan mereka akan jadi populer dan tetap tak sadar apa-apa. Bagi kami, mereka-mereka ini, tak pantas bicara soal moral, HAM, kesetaraan gender, dan agama. Mereka tak lebih dari phedophilia, penyebar gas beracun massal, menyiksa bawahan, pergi ke rumah ibadah sebagai trend atau formalitas.
    Anjuran dari kami, "Kalau pasanganmu tidak super, jangan pernah bercinta dan melahirkan anak-anaknya. Untuk laki-laki, kalau kau kawin dengan perempuan tidak super, jangan hamili dia.."
    "Dan kau emang tolol memilih orang," tandas Vallent.
    "Untuk wanita, kawinlah dengan laki-laki yang punya kesadaran tinggi, peka, dan berdedikasi dalam hal-hal yang penting untuk keluarga."
    "Jika tidak, tendang saja dia, sekalipun kau sudah punya anak darinya," timpal Vallent lagi.
    "Perceraian adalah jalan keluar demi kebaikan yang lebih besar."
    Dan protektif dan keras kepala jauh lebih baik dari pada adil dan bijaksana.

    Wanita+hamiltua (Roro)


    53

    Kami tahu, wanita hamiltua tak bisa tidur malam. Mereka sering batuk-batuk seperti perokok berat di tengah malam sampai subuh. 
    "Dan pastinya mreka pegi kemana-mana bawa drum," guyon Si Tengah waktu dia menjemur kolor-kolornya yang anehnya berwarna hijau melulu.
    Jika ditanya apa yang paling kalian benci, kami akan menjawab: "Wanita hamil yang merepotkan sebagian besar orang di sekitarnya karena dia cuma punya satu pilihan atau cara untuk menyelesaikan tugas itu."
    Menjengkelkan sekali jika orang-orang di sekitarnya terlalu bodoh untuk menghandle tugas-tugas itu dan membuang-buang energi untuk hal lain, dan kemudian tak punya cukup tenaga untuk yang lebih utama. Misalnya menjaga relasi dengan anak-anak. Semua itu adalah omong kosong besar yang tak ingin kami lihat. Terlalu menyebalkan sehingga kami bahkan merasa peristiwa ini lebih dibenci dari pada seorang Jendral membunuh bayi 10 hari.
    Inilah orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang tahapan hidupnya. Orang-orang seperti ini akan membebani dunia dan menambah lebih banyak lagi kerusakan yang tak cukup ruangwaktu dan energi dan juga pikiran untuk menanggulanginya.

    Wanita seperti itu akan melahirkan begitu banyak masalah yang tak bisa diatasinya sekaligus tak menyedari bahwa dirinya adalah sebabnya. Orang-orang seperti kami akan tiba-tiba mendapati laci kami penuh masalah yang kami tak bisa temukan penyelesaiannya. JIka kami mesti berbagi diri kami sekali lagi untuk wanita seperti itu, kami akhirnya hanyalah 1per4 dari diri kami utuh. 3per4 bagiannya telah disekap oleh masalah sendiri, masalah orang lain, 
    "dan siap-siap menangkap jika seseorang pingsan."




    Anak+pilihan (Roro)

  • Jumat, 29 Januari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,


  • 50


    Suatu saat kami akan membuat buku. Buku yang berisi pembelaan anak-anak yang telah dipersalahkan oleh sejumlah elemen dunia.
    "Misalnya apa tuw, Bang?" tanya tukang tambal ban di dekat rumah, tempat kami biasa tunggu angkotan yang lagi ngetem, lama banget.
    "Nih pertama ye, orang tua, trus kedua, masyarakat, dan yang ketiga, agama."
    "Kok agama dibawa-bawa, Bang?" Dia lagi belepotan oli. Vespa butut milik seorang pria butut juga sedang divermak.
    "Lihat aja ntar, Bang. Cabut dulu ye!"


    Lalu datang angkot merah itu, bagai hantu entah dari lubang mana.
    Banyak wajah segar dan gress berpepetan di dalamnya. Kami mungkin harus mengusutkan tubuh sedemikian rupa baru bisa nyelip.Tapi asyik kalo lu nyelip di antara itu....
    "Ah lupakanlah!"
    Yang pasti, satu saat akan kami kumpulkan daftar hal yang dibenci oleh anak-anak atas orang tuanya, masyarakatnya, dan agamanya. Kami yakin, ada begitu banyak kejutan dimana anak-anak dikatakan tidak bersalah oleh pengadilan Moral dan Psi.
    "Jadi?"
    Yah, kira-kira kesimpulan sementara, mereka dalah korban malpraktek orang tuanya.



    Konsekuensi+nikah (Roro)

  • Kamis, 28 Januari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 49


    Pasangan suami-istri tak sanggup membentuk keluarga keci!
    Orang-orang seperti ini kami temukan di keseharian kami di luar rumah. Mereka kelihatan saja hebat dari luar tapi di dalamnya, mereka benar-benar tidak bisa mandiri untuk sebuah kodrat pernikahan. Sebab mereka adalah tipe partner yang marah jika mereka tidak dibantu oleh orang lain.
    "Dalam otak mereka, jika mereka sedang melakukan suatu pekerjaan, pekerjaan lain bukan untuk mereka tanggung juga."
    "Iya, mereka ber-partner untuk tanggungan mereka sendiri."
    Mereka pikir, jika aku bekerja di kantor, aku tak bertanggun jawab penuh atas waktu untuk anakku. Jika aku menjaga anakku, aku tidak boleh melakukan hal lainnya. Orang-orang harus mengerti aku dan mengulurkan tangan tanpa kuminta. 
    "Mereka salah besar jika mereka masih berpikir demikian."
    Itulah kenapa banyak fenomena, generasi sekarang jauh dari rumah. Perilaku menyimpang, nakal, kena narkoba, tak peduli pada pendidikan, orang lain, dan segi-segi baik bagi diri sendiri, keluarga, agama, dan masyarakat. 
    Si Sulung tampak jengkel sekali ikut dalam pembicaraan serba berat ini, sebab di sini kami berempat tak langsung turut melibatkan Bapak dan Ibu dalam proses mendidik kami hingga kini. Dia sempat marah besar waktu kami bilang, dia terlalu pengecut untuk menggugat kedua orang tua meski dia seorang laki-laki sulung. Dia balas memaki kami, mengatakan kami tidak tahu terima kasih.
    "DURHAKA!"
    "GAK!"
    "SO WHAT?"
    Menurut yang kami pelajari di kampus, nama filsuf itu bukan Durhaka melainkan Durkhaim. Emile Durkhaim.
    wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwwkw........................


    Ternyata anak-anak bandel ini, perasaan mereka telah dibentuk, diarahkan sedemikian menyimpang ke sana oleh kedua orang tua yang tak siap menjadi orang tua meski mereka kelihatan prof dan matang secara finansial dan umur. Wah, lucu ye?



    Suami-istri+super (Roro)

  • Selasa, 26 Januari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • 48


    Kami yakin, ada sebagian suami-istri yang lebih berhasil berpacaran seumum hidupnya sebagai pasangan kekasih. Untuk itu mereka tidak boleh menikah.
    "Boleh kawin?"
    "Mau lu."
    Jika menikah mereka tak boleh punya anak dengan alasan, mereka lebih berhasil menjadi suami-istri tanpa bayi. Sebab kami yakin, anak mereka tidak mendapat perhatian yang berkualitas apalagi berkuantitas. Tidak jadi masalah mereka egois, hedon untuk diri sendiri dengan konsekuensi mereka tidak mempunyai anak. Sebab anak akan membuat mereka tidak nyaman dan merasa orang lain harus bertanggung jawab dan menanggung sebagian kesusahan dari beban memelihara anak mereka.
    Kami merasa keluarga seperti ini mesti disadarkan dengan sebuah terapi.
    "Misalnya?"
    Semua anggota keluarga tidak ikut membantu merawat atau menjaga anak mereka. Kalau perlu pura-pura tidak senang atau menjaga jarak dengan mereka.
    "Berikan contoh nyata," kata Frengki.
    Bagaimana seorang guru muda yang ditempatkan tugas di sebuah kampung di Kalimantan atau Sulawesi atau Irian Jaya. Membangun keluarganya sendiri dibantu istri. Punya 2-3 anak yang diurus sendiri sebab tak ada sanak saudara di sekitar mereka. Bagaimana mereka menghandle semua urusan anggota keluarga bersama-sama. 
    "Bukannya memilih orang lain yang melakukannya atau menolong apa yang seharusnya jadi prioritas mereka dan menjadi konsekuensi sebuah pernikahan, maksud lu?"
    IYE!

    Kontrol+pemerintah (Roro)

  • Rabu, 20 Januari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 46


    Dari pembicaraan dengan Door, kami sadar bahwa kami lebih mirip Ibu. Kami lebih suka menanam segala macam bunga yang bisa di dapat dari tetangga di halaman rumah kami. Ibu akan berkeliling pagi, siang, sore, dan malam untuk menikmati ruang kosong itu, yang baru kemudian, dari Nicky, kami tahu ruang kosong itu disebut dengan berbagai versi.
    "Taman" kami bilang kami sudah tahu.
    "Ruang terbuka" yah memang terbuka, anak kecil juga tahu.
    "Pekarangan taman obat" ini mulai agak rumit.
    "Lahan serapan air" dia mungkin bercita-cita menjadi insinyur pertanian, dulu.


    Kami jadi mengidamkan kota kelahiran kami berubah landskap menjadi tata kota di pedesaan Eropa dan Amerika. Satu hal yang ingin sekali kami bicarakan dengan Bapak agar dia membicarakannya dengan anggota-anggota partainya yang lain. Kalau mereka dapat kursi, setidaknya mereka dapat mengingatkan masyarakat akan tata kota itu. dari kenyataan itu, ada hal yang aneh. Sebab menurut Kakek, tanah di suatu tempat adalah tanah milik pemerintah negara itu.
    "Sehingga untuk membangun sesuatu di atas tanah itu, kita mesti minta izin," kata Kakek.
    Lalu, kenapa pemerintah tidak membuat peta tata kota saat ini dan memperhatikannya? Aparat pemerintah banyak. Masih banyak pembangunan yang tidak sesuai dengan tata kota.
    "Kemana fungsi kontrol pemerintah?" tanya Si Bungsu tiba-tiba kritis.
    Kecuali orang-orang seperti Kakek kami hanya duduk-duduk saja di kantor.
    "Bangunan toh tak jadi dalam semalam," sergah Si Sulung dari arah dapur. Dia lagi bikin kopi untuk tamunya di kamarnya.


    Tapi, entah kenapa, kami merasa bersalah sekali. Rasanya ada yang kurang pada diri kami. Seperti kami baru saja menipu orang baik-baik. Seperti kami menyelewengkan kepercayaan seorang teman. Dan benar saja, ketakutan terbesar kami sebelum tidur malam ini adalah "tidak dipercayai lag oleh orang lain, terkhusus teman-teman kami."
    Kami akan hancur jika hal itu sampai terjadi.



    Kompensasi+psycho (Roro)

  • Senin, 11 Januari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,

  • 43


    Lebih enak pulang jalan kaki. Menunggu angkutan umum untuk seorang teman tadi, tapi tidak dapat. Maka kami melanjutkan perjalanan sampai berpisah di sebuah perempatan. Air tergenang di pinggir jalan, membuat kami mesti mengukur kapan mesti lewat kapan mesti berhenti, dan sejauh apa percikan air cokulut itu jika kendaraan beroda lewat?
    'Seru tapi kesal!"
    Kenapa?
    "Seru karena aku jalan berpegangan tangan dengan cewekku. Dan kesal karena aku mesti pasang badanku agar dia tidak keciprat air jorok."
    Dan sepasang kekasih itupun berjalanlah. Di sebuah tempat rekreasi yang baru dibuka sebulan yang lalu, di dekat rumah kami, orang-orang pada sibuk memarkir mobil. Seketika kami melihat dunia eksklusif dalam dunia besar yang pelan-pelan hancur. 
    "Seperti kota Gotham dalam BadMan?"
    Pelarian psikologi dari orang-orang yang muram dan tak tega melihat dirinya hancur. Mereka meninggalkan kesemberawutan di sekitar rumahnya dan memilih duduk-duduk di tengah taman bunga Poison Ivy. Di tengah lampu-lampu gantung yang ditata mirip penyambutan perayaan 17-an Agustus atau tahun baru. Dunia kecil ini begitu indah. Tak ada duka dan bencana, seakan tak ada tragedi mengincar tumitmu. Seakan tak ada tragedi Situ Gintung, atau seakan tak pernah ada pedagang obat kuat di warung remang-remang di pijok sana.
    "Ini, dari sini lu bisa langsung liat mbak-mbaknya jualan."
    Orang-orang yang datang dengan mobil dan parkir, kelihatan bahagia sebab malam telah gelap sangat. Lampu dinyalakan sebagai penghangat. Kegelapan yang mendominasi memaksa segelintir orang berduit berlari ke dalam dunia-dunia kecil yang penuh lampu gantung, makanan cepat saji dan pelayan-pelayan yang baik hati, juga tukang parkir yang ramah.
    "Semuanya atas nama uang dan penyambung napas," celetuk Si Tengah.
    "Asal kau jangan begitu saja."

    Related Posts with Thumbnails

    La Musica