Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label Ujian Skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ujian Skripsi. Tampilkan semua postingan

Belajar Melukis #1

  • Sabtu, 19 Mei 2012
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , ,
  • Melukis

    #1 “rumah pohon”

    a/

    Sudah sebulan lebih kanvas, dua biji kuas dan cat air murahan itu terbungkus dalam kantong plastik putih besar, berlogo ADA—sebuah swalayan di daerah Bogor. Keinginan saya besar sekali untuk melukis, tapi mengingat saya bukan seorang profesional, saya tidak dapat langsung membuat sketsa dan mencampur warna—lucunya tak ada yang tahu bahwa saya adalah seorang buta warna, meski saya sering terlibat dari kegiatan dekorasi, baik pemotongan huruf dan melukis sesuatu—dan membuat sebuah lukisan yang sangat menakjubkan sampai orang-orang yang melihatnya tercengang dan memuja saya.

    Sudah saya rencanakan, lukisan itu akan saya buat sesaat setelah Ujian Skripsi usai, sebagai rasa syukur atas pencapaian saya selama tujuh tahun terakhir ini—sekaligus mengasah keterampilan melukis saya yang terputus sejak enam tahun lalu, di Ujungpandang. Dulu saya bisa menghasilkan tiga puluh dua lukisan berbagai ukuran dalam waktu delapan bulan, di Ujungpandang, tapi setelah itu saya nyaris tidak punya kesempatan dan kehilangan semangat. Apalagi kawan-kawan seni saya berada jauh dari sekitar saya—Vallen, Ollus, Sony. Saya yakin, mereka juga tidak menyentuh kuas sejak di Ujungpandang itu. Sayangnya pada tahun 2010, ketika kamar di lantai dua di rumah Opa saya dibereskan untuk dijadikan kamar Bermain Anak-anak, tiga puluh dua lukisan saya itu ikut dibereskan dan tidak tahu bagaimana nasibnya. Saya tidak peduli, mungkin sebab lukisan itu dibuat diatas kertas-kertas HVS bekas. Tapi saya kangen melihat lukisan Monalisa dan Perempuan Telanjang. Kedua lukisan itu merupakan “pencapaian” tertinggi saya. Ah, sekarang saya siap melukisan, dan itu terjadi begitu saja pada pukul 03.04 pagi. Badan saya sudah kelelahan, mata saya sudah perih, tapi entah kenapa banyak inspirasi dan tenaga baru yang menyokong saya. Saya buka Google dan mencari ide.

    b/

    rencana awalnya adalah melukis sebuah pohon, hanya sebuah pohon, yang hitam, rimbun, letaknya di ujung dataran. Namun yang malah terlukis adalah sebuah pohon amburadul, dengan sebuah rumah pohon yang lebih mirip kandang monyet dari pada sebuah tempat bersantai manusia. Padang ilalang menguning terhampar di sekelilingnya, sampai jauh ke bukit dan gunung disana. Di latar langit, bulan putih pucat membayang, tersembunyi di balik awan kelabu yang samar. Saya ingin melukiskan semuanya dengan detail tapi sayang, kanvas begitu kecil dan ide itu begitu luas.

    Saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa penting sekali memilih objek lukisan sesuai dengan ukuran kanvas. Jika ingin memasukan sebuah objek dengan cermat, hendaknya dilukis dalam format mini, tidak boleh langsung besar. Maka akhirnya saya berimprovisasi. Mencoret sana sini seperti kanvas itu sebuah HVS kosong, membuat empat garis pembagi lukisan dengan warna/i yang mencolok sehingga ada kesan ganjil dan tidak monoton. Sebab saya telah menulis banyak kalimat tentang Kematian Mozart di atas objek yang telah kering.

    Kemudian saya terinspirasi. Lain kali saya bisa melukis dengan objek yang sama, yakni Tulisan, bukan benda. Tapi tulisan itu hanya beberapa baris saja, dengan huruf yang indah dan ditempatkan di bagian tengah. Lalu di belakang tulisan itu, saya lukiskan objek yang detail baik warna dan bentuk, letaknya di sudut bawah, tidak besar tidak mungil. Saya kira itu akan memberi kesan kuat akan pesan yang saya sampaikan.

    c/

    Saya merasa cukup berimprovisasi. Lukisan telah selesai, kepuasan saya mencapai 70%, sebab tidak sesuai dengan harapan saya. Tapi saya belajar sangat banyak dari lukisan Pertama ini, bahwa tidak mudah melukis objek detail dengan kuas. Dan bagaimana pelukis-pelukis hebat itu bisa memberi warna dengan sempurna? Mereka pasti sangat Istimewa.

    Remon ben Lamreh

    Mitos Skripsi

  • Jumat, 18 Mei 2012
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • Skripsi

    1

    Saya baru saja menyelesaikan Ujian Skripsi di sebuah Fakultas Filsafat. Ketegangan menghadapi Ujian Skripsi sudah lewat—meski sebenarnya saya tidak tegang sama sekali, malahan merasa ujian ini sama seperti ujian lainnya yang bersifat presentasi kemudian tanya jawab. Jadi jika orang-orang bilang bahwa “Pas ujian skripsi keadaan jadi sangat tegang, jantung berpacu tiga kali lipat dari normal” malah saya merasa itu bohong, dan tidak berlaku pada diri saya, dan banyak kawan saya di fakultas yang sama. Jadi semua kisah tentang skripsi bisa dikatakan sudah menjadi mitos, dibesar-besarkan kemudian menjadi sugesti. Intinya adalah jika kamu sudah siap, kamu tidak akan takut dicoba. Prinsipnya kan sang dosen penguji tidak mungkin menanyakan sesuatu yang diluar skripsi kita.

    2

    Untuk sampai ke waktu “Ujian Skripsi” ini, saya menghabiskan waktu kuliah yang diperkenankan di universitas saya yaitu 14 semester alias 7 tahun. Dua orang kawan saya yang hebat, menyelesaikannya malah dalam 4 tahun pas, tidak kurang tidak lebih dan mereka mendapatkan nilai 80 untuk Skripsi mereka. Bayangkan, dalam 4 tahun, mereka bisa mengambil 144 SKS dan mendapatkan nilai A untuk Skripsi. Bagi saya, mereka berdua mahasiswa yang paling efektif dan efisien. Salah seorangnya melanjutkan S2 ke fakultas hukum di daerah Menteng.

    Dari pengalaman mereka, dan tentu banyak mahasiswa lainnya, saya yakin bahwa mahasiswa manapun bisa menyelesaikan kuliah dalam 4 tahun dan mendapatkan nilai A untuk Skripsi, sejauh dia benar-benar “mau menyelesaikan kuliah dan Skripsi” karena jika dia terus mengulur-ulur dan lebih memfokuskan diri (atas membagi waktu dengan hal lainnya) pada kegiatan “sampingan” misalnya bekerja, menaklukan cewek, aktif di kegiatan mendaki gunung, olahraga, musik, teater, dll, saya rasa akan sulit menyelesaikan kuliah dan Skripsi dalam 4 tahun pas.

    Meski saya termasuk mahasiswa dalam angkatan yang paling akhir menyelesaikan kuliah, saya tetap memberi “salut” pada diri saya sendiri karena sudah berhasil mengeluarkan diri dari DO dan itu akan membuat semua rencana saya berantakan. Apalagi saya ingin segera menikah dan punya anak (sebab saya sudah punya pekerjaan ketika saya semester 10).

    3

    Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman kuliah dan menulis Skripsi adalah “tidak membuang-buang waktu”. Sebab saya harus bertanya pada diri saya sendiri “apa yang kamu kejar?” Sebuah “Cum laude”? atau “selesai kuliah secepatnya”? Pilihan ini yang menentukan kapan saya bisa menyelesaikan kuliah dan Skripsi. Saya menutuskan untuk “selesai kuliah secepatnya” tapi mengalami “masalah keuangan” dengan Sekretariat dan itu meluluhkan semangat saya untuk menyelesaikan kuliah dan Skripsi secepat-cepatnya (ketika itu semester 10) dan saya memutuskan untuk “rehat” 3 semester, bekerja, dan menikmati hidup ketika tidak ada jam kuliah dan tetek bengek kampus yang memaksa saya harus masuk pagi-pagi, pulang petang, mengerjakan paper dan berdiskusi kelompok dengan orang-orang yang sama malasnya seperti saya, jika tidak malas, mereka sangat cerewet dan sok tahu.

    Pada semester 14 ini juga, saya tetap berprinsip menyelesaikan kuliah dan Skripsi “secepat-cepatnya” maka saya masukkan bahan Skripsi ke Sekretariat, berdamai kembali dengan orang-orang di Sekretariat, berusaha sabar dan rendah hati (demi sebuah ijazah) dan tenang menunggu jadwal Ujian Skripsi.

    Jika seorang mahasiswa sudah belajar banyak tentang bahan skripsinya, tak perlulah dia harus tegang berhari-hari selama menunggu hari H. Misalnya saya Ujian pada hari Rabu pukul 10-11 siang. Pada hari-hari sebelumnya, saya tidak “tegang” dan berusaha “memakan” semua lembaran Skripsi saya. Saya membaca dengan santai dari halaman awal sampai akhir, menulis ringkasan (hanya satu lembar bolak-balik) kemudian hanya membaca “ringkasan” itu di waktu senggang. Jadi saya tidak menciptakan kondisi “terpaksa” dan “tegang” untuk diri saya sendiri. Hasilnya, saya bisa dibilang tidak “belajar” sampai hari H, bahkan saya terlihat sibuk ngobro tentang situasi politik dan masalah keluarga dengan salah seorang kawan yang jenius, merokok dan ngeteh, mendengarkan lagu-lagu dari notebook dan membaca sebuah novel berjudul Emily of New Moon. Rahasianya adalah “tenang” menghadapi segala sesuatunya, sama seperti seorang agen profesional.

    4

    Pada waktu yang ditentukan, saya masuk ke ruang Ujian, duduk, membetulkan gulungan kemeja lengan panjang saya, meletakkan “ringkasan” di depan saya dan menunggu salah satu dari dua dosen penguji berbicara. Saya dipersilakan “presentasikan skripsi Anda dalam waktu 15 sampai 20 menit” dank arena begitu efektif dan efisiennya saya, “presentasi” itu hanya berlangsung selaman 7 menit. Kedua dosen penguji heran, saya diminta “ada yang masih kurang, dan Anda bisa menambahkannya lagi, masih banyak waktu” dan saya menambahkan yang perlu, lalu duduk tenang, mengangkat dagu dan menunggu kedua dosen penguji berbicara. Semudah itu, tidak tegang, tidak sakit perut, tidak kebelet pipis, tidak keram, tidak gagap, tidak segalanya. Ternyata semua kisah seputar ujian skripsi adalah mitos.

    45 menit sisanya, saya dicecar soal teknis penulisan dan kalimat-kalimat yang masih dibutuhkan tambal sulam dan penjelasan lebih lanjut. Kedua dosen mencoret disana-sini, memberikan tambahan dan membantu saya mengisi skripsi saya agar lebih “penuh” lalu saya dan kawan yang “menonton” diminta keluar sebentar, kedua dosen penguji akan berembuk untuk memberi nilai. Lima menit kemudian saya dipanggil masuk dan mereka dengan tenang mengatakan “Presentasi Anda kurang tapi skripsi Anda lumayan. Kami sepakat memberi Anda 72” itu artinya saya mendapat nilai B. Semudah itu. Saya keluar dan bergabung bersama kawan yang “menonton”, turun ke lantai bawah dan mendapat jabatan tangan dari orang-orang yang mengenal saya, mereka yang juga ikut ujian skripsi, dan kami berdua pergi ke warteg tak jauh dari situ, makan siang dalam hujan deras yang menghajar Jakarta Pusat, lalu kembali ke kost kawan saya itu. Disana kami merokok, ngeteh, mendengarkan musik dan sama sekali tidak membahas soal skripsi, malah kami menonton film Mission Imposible 4 dan John Carter. Semudah itu. Sesederhana itu.

    5

    Semua yang kita dengar tentang Ujian Skripsi, Dosen Killer, situasi yang menegangkan, adalah mitos dari universitas itu sendiri. Itu semua demi “memotivasi” para mahasiswa lebih giat belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi “ujian” di dunia luar yang lebih “ngeri” dari pada sejam duduk di hadapat dosen penguji. Dan saya rasa saya boleh bilang bahwa “ujian skripsi adalah satu jam kegiatan akademis yang menyenangkan selama hidup saya sebagai mahasiswa”.

    Fulcanelli

    Related Posts with Thumbnails

    La Musica