Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label nasionalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasionalis. Tampilkan semua postingan

Agamis+nasionalis (Roro)

  • Selasa, 27 April 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • 75

    Banyak hal yang ingin kami ceritakan satu sama lain, tapi sebaiknya mulai darimana ya?
    "Mungkin sebaiknya mulai dari hari Selasa, cez," usul Si Tengah sementara dia mencukur jenggot kambingnya.
    "Kenapa mesti hari Selasa?"
    Karena hari itu, begini ceritanya: hari Selasa... ketika kami mesti tergopoh-gopoh ke kampus untuk bertemu dengan dosen pembimbing akademis kami. Dia bule dan tampan, meski sudah tua. Kami kadang-kadang menyamakan dia dengan Sam Sephard atau Sam Sheperd yang membintangi film penuh ciuman basah NoteBook...tentu kami ingat, sebab kepingan cakram itu berada paling atas dari susunan kepingan-kepingan lainnya.
    Si bule ini, waktu bertemu dengannya, dalam ruangannya, yang kecil dan ber-AC, kami terlontar, terlonjak, sadar bahwa manusia tercipta dan hidup dalam ruang dan waktu. Manusia bukan yang Ilahi.

    "Manusia bakalan mati, bos!" seru teman kami, Nox Nix (baca: no onni) dari ujung aspal, warung kopi, yang beroperasi 10 jam sehari. "Dan orang tua bakalan lebih dulu mati daripada orang muda, secara usia."
    Kesadaran itu menohok hati kami.
    Si dosen sudah pasti tercipta oleh sesuatu yang bukan dirinya.
    "Pakar biologis, gw ga sebut Darwin lho, menegaskannya berasal dari spermatozoite dan ovume ayah ibu." Tiba-tiba si Ama Dinn menggagas dari balik tembok.
    "Dia hidup dalam ruang dan waktu."
    "Waktu dan ruang Eropa."
    "Sebelum beranjak remaja..."
    Percakapan itu makin ramai. Semuanya berawal dari hari Selasa.

    "Ruang dan waktu memotong masa hidupnya," Nox Nix belum puas juga berargumen. Kami ingin Nox Nix menyambung kalimat putus di atas. Sebelum beranjak remaja...
    Remaja yang menyenangkan sebab dia tingga di Eropa. Yang lebih maju kira-kira 20 kali lipat dari Indonesia.
    "Waktu itu belum tentu Indonesia sudah merdeka."
    Kemudia si remaja Eropa pergi ke tanah-tanah di Timur. Tanah yang pernah dicari Colombus, tanah yang diserbu orang Saxon, Hispanic, dan klan Aragon di semenanjung Iberia sana. Karena bau bumbu masakan rempah-rempah kita, telah menusuk hidung paruh burung bule-bule Eropa berbulu pirang itu.
    "Apakah dosen kita itu termasuk kolonialis-imperialis yang berkamuflase agamis-karitatif?" tanya Ama Dinn masih dari balik tembok.
    "Tidak, sama sekali tidak. Dia bahkan lebih menginginkan negri ini tanpa kekerasan berdarah dari orang Indonesia manapun."
    "Kau serius?"
    ...

    Cina+wanita (Roro)

    63

    Orang ini membangkitkan simpati, rasa sayang, seperti kami sayang pada Ibu. Seperti kami suka memanjakan adik perempuan kami. Seperti kami ingin selalu dekat kakak perempuan kami. Seperti kami selalu girang jika berkumpul bersama sepupu-sepupu perempuan kami.
    Dia menatap mata kami lebih sering dari pada menatap mata suaminya atau adik iparnya, yang sebaring dengan kami. Mungkin dia melihat sesuatu di dalam mata kami. Kami ingin katakan padanya bahwa dia adalah:
    "Keluarga kami."
    Dan kami adalah orang-orang yang menyayanginya dan memahami keadaannya. Kami adalah generasi baru yang bukan lagi anak-anak generasi rasialis. Kami tak bangga pada darah yang patriotis tapi iblis. Dulu Kakek bercerita:
    "Saya itu bergerilya mengusir penjajah yang menginjak harkat dan martabat kemerdekaan kita. tapi sekarang orang-orang mau membangun kolonialisme modern satu terhadap yang lain."
    "Siapakah orang-orang itu, Kakek?"
    "Orang-orang setanah air."
    Kami mulai menjadi sakit. Kami mulai menjadi derita. Dan kami pengen lari dari negri ini, menetap di Mars atau galaksi lainnya. Kami bukannya takut mati, tapi kami benci melihat orang-orang tak berdosa dimakan iblis primordialis.

    Cina+primordialisme (Roro)

    62

    Jalanan Jakarta sumpek tapi manusia masih semangat berlalu lalang. Jadi teringat sebuah film jadul yang mengisahkan segerombolan penjahat menjarah kota dan memperkosa orang, bahkan laki-laki dan anak-anak sekalipun. "Mereka itu maniak."
    "Tahu dari mana kamu?"

    Seorang teman kami mengatakan bahwa dia tidak terlalu bersimpati pada orang Cina. Dia memang tidak selalu bersimpati pada orang etnis lain: misalnya Arab atau Kaukasia. tapi buat dia, etnis Cina terlalu menempatkan dirinya di sisi terjauh dari kehidupan dalam masyarakat. Tentu saja tidak semuanya benar, tapi kami mendengarkan saja. Sebab dia menawarkan sebungkus cigarette gratis dan sukun goreng ditemani kopi pekat dari kampung halamannya. "Tak usalah kau bersusah-susah mengira-ngira bervarian apa kopi itu dan apa nama kampungnya."
    "Why?"
    "Supaya kau tidak aku bilang primordialis."

    Dan ceritanya begini: hari ini, lupa hari apa, kami terburu-buru ke kampus. Masuk ke ruang kuliah dan terkejut sebab bukan dosen kami yang muda dan berbahasa bagus itu yang berdiri di depan whiteboard, tapi beberapa orang cina, dan rasanya ruang kuliah itu langsung penuh. Seorang laki-laki cina, ternyata suami dari wanita cina yang duduk di baris sebelah kami, memulai pembicaraan. "Dia yang kasih seminar?"
    "Kayaknya. Why?"
    "Gpp."
    Mengalir cara bicaranya. Dan di tengahnya dia menyinggung sedikit saja: "kerusuhan may." dan kami jadi kesal pada negri dan orang-orang dimana kami lahir dan disebut sebagai anaknya. Ketika si istri di daulat untuk berbicara, dia tak sekalipun menyinggung soal diskriminasi rasial dan sebagainya.
    "Padahal kalau mau dicermati, setiap etnis yang mengaku sebagai pemilik atas negri ini pun terus diskriminatif rasial satu sama lain."
    Namun dalam suaranya, pada wajahnya, pada gerak tubuhnya, kami mendengar kesedihan yang mendalam. Dan kami tak bisa berkata apa-apa lagi. Kami ingin keluar dan menemui teman kami yang tidak bersimpati pada orang cina itu.


    Nasionalisme+indonesia (Roro)

  • Jumat, 19 Februari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 61

    Si Sulung masih di kamar mandi. Memang kalau mandi, dia suka lama. Gosok apa aja zi? Si Tengah selalu saja bertanya dengan kesal, sementara badannya gerah dan mukanya kusut. Tapi hari ini, petang ini, kami ingin berbicara dengan tamu-tamu kami yang hebat sekaligus tidak hebat. Izinkan kami sebutkan nama-nama itu: Nama-Yang-Ingin-Kau Sebut atau Kau-Tentu-Tahu-Namaini: Juls, Niklas, Changk, Batokx, dan Zammy.
    Mereka berlima datang siang tadi. Agak lusuh zih, tapi tak apa-apa, mereka adalah manusia-manusia dari stok yang paling baik dan gres. Lihat saja kalau kau ingin!

    "Gw lahir di Indonesia," kata Juls membuka. Dia ini orang paling tinggi dan paling berbobot badannya, juga tak menyentuh rokok. Tapi tentu saja dia bukan yang paling pintas sebab nama kedua masih harus dilangkahi dulu. Hahahahahahaha...kami tertawa dengan lelucon sendiri.
    "Gw punya nama belakang asli Indonesia," tambah Niklas, orang yang digadang-gadang paling pintar tadi. Tapi kau harus menguji kepandaiannya dulu, tentu saja, apakah dia tahu siapa pencipta teleskop? Tapi jangan coba-coba tanyakan pada manusia ketiga nanti, dia lebih suka sajak dan puisi juga bola kaki. Klub kesayangannya Chelsea.
    "Ga ada sedikit pun darah dari negara lain yang mengalir dalam nadi gw," timpal Changk sambil membuka baju dan menyampirkannya di gantungan "tali kambing" di balkon kami. Tapi apakah sosok yang keempat nanti benar-benar asli Indonesia? Bukankah dia mirip-mirip orang Kanton?
    "Tapi gw tetep ga pernah ngerasa memiliki negri ini," ucapnya dengan getas, seakan ada kesedihan yang gairah pada negri ini dalam getar suaranya. Dialah Batokx. Temen-temen masih mengira dia pemuda dari Filipina, sebab kata orang-orang dia bernama belakang Filipino. Ow, benarkah begitu? Tapi mari kita lihat KTP-nya. Nah, orang terakhir ini yang lincah mengenai KTP dan tetek bengek lainnya, sebab dia punya daya ingat dan suka mencari tahu yang tinggi. Duduk dengannya sehari, kau akan merasa belajar dari 100 profesor dari Yale.
    Zammy mengeluarkan sebungkus rokok. "Tapi orang-orang dari negara lain ga kenal siapa gw, waktu gw jalan-jalan ke Singapur."

    Jadi kami pikir: berbeda sekali dan bersyukur sekali mereka yang lahir di negara-negara bukan Indonesia dan memiliki nama belakang sesuai bahasa setempat. Jerman, Brazil, Arab, Israel, Thailand, Filipina, Malaysia. Di Indonesia, kami hidup bersama orang-orang yang secara "setengah-setengah" menganggap kami salah satu dari mereka. Dan oleh karena itu, orang asing akan sangat terkejut dan bertanya pada Si Bungsu:
    "Kau benar-benar asli Indonesia?"
    "Memang, kami tidak mempunyai ciri-ciri fisik yang jelas dan ini diperparah dengan isu rasial yang terhembus kencang akhir-akhir ini."

    Dan Juls angkat bicara lagi, setelah hening yang galau. 
    "Di negara lain, isu rasial, dalam tanda petik memang seharusnya. Misalnya orang Prancis dan imigran dari Afrika. Memang nenek moyang keduanya lahir di tanah yang berbeda."
    Niklas mulai greget dengan pembicaraan petang ini, meski kopi pekat panas baru disajikan oleh kami.
    "Tapi di Indonesia, kau lahir di suatu pulau di sini, tapi kau tetap kena isu rasial oleh dan dari orang yang lahir di suatu pulau di negri ini juga."
    Changk sedang sibuk membagikan gelas kopi. "Itulah kenapa orang asing menertawakan kita dan menganggap kita manusia primitif."
    Batokx seakan baru muncul dari bunker persembunyiannya. Dengan diam-diam dia menyalakan cigaret dan menyeruput kopi. Melepuh sudah lidah dan bibirnya. "Tapi, gimana pun  juga mereka yang rasis dan memprovokasi isu rasial demi alasan apa pun, bahkan demi melindungi Tuhan dan agama atau HAM, adalah orang yang perlu dibantu untuk keluar."
    Maksud lu apa zi, Tokx, ga jelas banget deh.
    Zammy melancarkan pukulan terakhirnya. "Mereka perlu dibimbing keluar dari dunia yang semu itu."
    "Dunia yang picik, Bro!"
    Ah, itu suara cempreng jelekx dari abang kami, Si Sulung, yang baru keluar dari kamar mandi. Tahu apa lu?


    Rasist+nasionalist (Roro)



    60

    Dan hari ini kami temukan lebih banyak lagi, mereka itu tersebar di hampir semua tempat umum dan ruang-ruang yang kami pergi. Misalnya, orang bersalaman atau berjabat tangan dengan menyentuh ujung kuku saja tanpa melihat ke wajah. Orang cenderung berprasangka bahwa seorang dewasa berkulit sawo matang, menggendong anak kecil berkulit langsat dan bermata sipit adalah penculik. Dan kemudian mereka jadi senang dan tertawa karena ada kasus di TV, seorang berciri-ciri seperti kami memang penculik, kemudian generalisasi pun terjadi dengan gampangnya.

    "Saya tahu orang seperti itu memang jahat," dan menerangkan ciri-ciri fisiknya adalah kebahagiaan terbesarnya.
    Kami sangat benci sifat orang seperti ini. baik si penculik maunpun korban. Orang-orang dengan mudah mencari pembenaran diri dengan menyalahkan orang lain. Padahal, berapa ribu sih, anak-anak yang diculik dalam setahun? Mengingat jutaan bayi lahir tiap minggunya. Itulah pentingnya ayah dan ibu "di rumah" dalam artian mereka tidak kehilangan kontrol pada anak-anaknya. Sebab sungguh tolol berprasangka pada orang asing yang berciri-ciri fisik tertentu...
    "Sementara kau membiarkan anak-anakmu di"jaga" oleh lebih banyak orang asing yang juga berciri-ciri tertentu."
    "Hari gini, masih rasis?"

    Stttttt...."Ataukah kau berniat menumpahkan lebih banyak darah tuan dan nyonya rasis?"
    Related Posts with Thumbnails

    La Musica