Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label sekretarian jahat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekretarian jahat. Tampilkan semua postingan

Ibu atau Skripsi? (Roro)

  • Selasa, 03 Agustus 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , ,

  •  Bersambung hari kemarin. Si Sulung berkelakar, "Sesekali lo dermawan dan beli-beli barang yang diiklanin gitu. Supaya paling ngak, kita pernah ngerasain gimana enaknya jadi orang kaya dan bisa beli semua hal yang diiklanin di tivi."
    Mungkin denger kelakar itu, Si Tengah teriak dari kamarnya, "Uang bensin, bro. Eh, gw pake Pertamax neh, kan gw pinjem CBR temen Ucok."
    "Ah, lo ma enak, jalan-jalan, nampang, trus godain cewek. Siapa yang ngak pengen nungging di CBR gitu?" Si Bungsu ngeluh sebab dia hanya perlu pergi jalan kaki ke warnet Prima buat browsing. Tapi kami menguatkan kelemahannya, sebagai anak bungsu yang selalu mau dimanja. Dalam hati kami berkata, lo ngak selamanya digendong Ibu, Dek. Lo lagi merantau ini.
    Kami bilang ke Si Bungsu, "Kan gw juga di rumah aja, ngedit-ngedit. Lo ngak inget, Dek? Gw sama Abang gak jalan-jalan. Jadi lo ngak perlu merasa ngak adil kaya gitu. Demi saudara bahkan ngak adil juga ngak apa-apa. Kalo Abang Skripsinya bagus trus dilirik buat dijadiin buku, lo kan kebagian KuePiang juga."

    Petangnya Ibu menelpon. Mungkin karena saking rindunya pada kami berempat.
    "Apa kabar Ibu?"
    "Baik-baik saja. Hari apa kalian pulang?"
    "Ngak IBu. Kami harus bahu membahu menyelesaikan Skripsi Abang."
    "Baiklah. Skripsi Abang kalian jauh lebih penting. Baik-baiklah kalian di situ. Jangan mabok. Jangan ngerorok banyak-banyak. Banyak-banyak minum air putih."
    "Terima kasih Ibu. Tuhan menjagamu."
    "Begitu pula kalian anak-anakku tersayang."

    Besoknya, subuh-subuh, saudari kami yang nomor 5 mengirim sms singkat: Ibu Sakit.

    Stagnant? (Roro)

  • Kamis, 20 Mei 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,



  • 82

    Sudah tanggal 20 may. Benar-benar cepet itu waktu berlalu. Susah juga mengejarnya, sementara kami sudah ketinggal sejumlah mata kuliah. Seharusnya ada yang menghubungi kami untuk bertanya apakah kami ingin menitip tandatangan atau bilang sakit saja? Tapi kali ini tidak sama sekali.
    "Apakah semua temen kita sudah lupa akan kita?"
    "Atau mereka sudah mati?"
    "Bisanya?"
    "Mereka naik gunung dan menghirup gas beracun seperti Gie."
    "Atau kena tembak di Priok."
    Ah, tolong, pliz, jangan mengada-ada.

    Memang ini bulan paling menyebalkan karena nyaris semua rencana kami gagal di bulan ini. Begitu bencinya kami pada bulan ini sehingga kami tak mau mengisinya dan membuat dia bangga pada temen-temen bulannya yang lain bahwa: "Aku sudah membuat mereka ok."

    Roro. Oh, Roro. Pencarian atas Roro stagnant. Berhenti di titik kami sedang kesal pada perguruan tinggi kami. Oh, betapa rugi. Andai saja waktu bolos kuliah ini kami manfaatkan untuk jalan-jalan ke Pondok Gede, hanya untuk survei lapangan, tentu kami sudah tau gang mana yang selalu Roro lewati jika hendak pergi dan pulang kuliah. Ah, rugi banget. Setan alas ini! Kok gak terpikir sejak kemaren-kemaren si?

    Bolos Kuliah (Roro)


    81


    Terus terang saja, kami agak benci ketemu sekretarian kampus guna mengurus tetek bengek perkuliahan kami. Ibu dan Bapak pasti marah, tapi kami benci bertemu orang-orang sekretariat. 
    Di rumah kontrakan, suasana berubah. Kami nyaris seperti seorang frelens yang boleh keluar bekerja kapan saja tanpa ikatan. Dan lucunya kami bahagia, meski pergi kuliah tidak pernah bisa frelens.

    Semua orang pengen tiduran, main komputer. Apalagi Si Tengah sedang demam main game online biliar. Katanya dia pengen hafalin trik-triknya terus nantangin orang-orang sok jagoan yang dia ketemu di biliar sentral. Dia pengen taruhan duit: sekali menang angkat 20.000 rupiah. 
    "Bagus juga tuh."
    "Iya dong, gede dapetnya."
    "Bagus di tangkep polili dodol."
    Akhirnya siang ini diakhiri pertengkaran Si Tengah vs Si Sulung.

    Kembali dari beli mie dan telor buat direbus makan siang. Sebab stok duit di ATM menipis, kami tidak saling tengur sama yang lainnya. Semua kelihatan betah bolos kuliah nyaris sebulan. Apa gak ditanyain orang sekretarian dan teman-teman? Kelihatannya gak, sebab gak ada yang menelpon. Mungkin teman-teman, sama halnya dengan sekretariat, sedang ingin kami gagal semester ini. Kemudian Si Bungsu membuat kami terkesiap. Dia berbisik: "Semoga Roro gak tiru kita."
    "Kenapa?"
    "Dia kan kuliah."
    "Terus?"
    "Ntar orang tuanya jadi stres. Kita gak mau Roro kenapa-napa kan?"
    "Jangan disumpahin dong, Dek."
    "Prepare aja, Bang."
    Related Posts with Thumbnails

    La Musica