Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku
Tampilkan postingan dengan label anak-anakku (mu). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak-anakku (mu). Tampilkan semua postingan

Keperawanan+satria (Roro)

  • Rabu, 10 Februari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 56

    Itulah kenapa kami menyukai cerita epic, kolosal, karya sastra purba, misalkan Ramayana, Mahabharatta, dimana para gadis dari yang paling miskin sampai yang paling tajir; dari yang paling jelek sampai yang paling cantik. Bahkan yang belia sampai yang pantas dipanggil nini, menyerahkan keperawanannya dan mempertahankan cintanya pada seorang pria, pria yang berenergy, berjiwa patriotis, nekat  membela wanita yang dicintainya itu dengan fight. Laki-laki atau wanita yang tidak fight tidak pantas bersatu di dalam rumah tangga.
    "Kenapa emangnya, Bang?" Ah, Si Bungsu nongol lagi. Cp d....
    "Karena_"
    Menyebalkan sekali tahu bahwa orang yang baik-baik, harmonis, ternyata tak bisa fight untuk pasangannya dan untuk anaknya. Inilah suami omong kosong dan istri mulut besar.

    Kemudian suatu hari yang cerah tapi di kejauhan sana mendung merayap dengan pasti, seakan mau mengatakan bahwa, tunggu aku di situ, aku tak akan lama. "Ih, ujan, bikin males kemana-mana aje."
    Kami membuat wawancara televisi rekayasa di rumah Temi, sebab dia seorang wanita yang menggembar-gemborkan bahwa dia FEMINIS pemula alias amatiran.
    "Tapi yang penting dia feminist kan?" Bela Si Tengah.
    "Mentang-mentang gebetan lu_"



    55

    Orang-orang yang hebat, penulis buku-buku laris, penerima penghargaan, kaya raya, dan jadi begitu aristokrat dari kata-kata di bukunya, mengatakan bahwa, "Cinta adalah dasar membangun rumah tangga. Musyawarahlah agar dapat membagi tugas dengan baik. Pengertian supaya tidak menyinggung perasaan. Jangan cemburu buta. Dan dewasalah." Dan tentu saja masih banyak hal positif lainnya.
    "Misalnya?" tanya Si Sulung. Ih, tiba-tiba ini orang muncul...dari mane lu?
    "Oh, misalnya, bilang ke pasanganmu: kamu cantik hari ini. Aku mencintaimu. Aku selalu rindu padamu."
    Beri dia kejutan, makan malam romantis, foreplay yang nyaman dan hot, dan begitu banyak hal lainnya. Tapi terus terang saja, kami menganggap itu semua omong kosong BESAR.

    Relasi seperti itu adalah relasi yang menggelikan. Menjijikan. Relasi yang entah datang dari langit atau lubang mana, berhasil menipu manusia yang suka akan kegemerlapan dan mendambakan tipuan.
    Tiba-tiba Si Tengah melompat dari lantai dua ke lantai satu, jatuh di atas bantalan yang disusun di atas dudukan sofa gemuk. Jadi dia tidak mati. Kemudian dia mengambil microfon dari tangan kami dan bernyanyi:
    "Dasar sebuah rumah tangga adalah tenaga_energy_ketahanan fisik."
    "Lu kate ini mau pergi perang di Somalia?" Si Bungsu melemparkan pertanyaan cemooh. Dia lagi bikin susu cokelat, sebab Ibu terus memaksanya minum susu itu biar cepat gede kayak abang-abangnya.
    "Pada urutan kedua ada "patriotisme"_posesif dan protektif." Yang ketiga, "ada banyak referensi iptek di kepala suami-istri."
    Jika tidak, lebih baik dia single sampai hari matinya. Sebab jika mereka tak memiliki, minimal yang pertama dan kedua, mereka tidak mungkin bisa saling memberi dan menerima. Supaya mereka dapat berelasi dengan baik dengan anak-anak mereka.
    "Oh, begitu toh?" pertanyaan sela Si Sulung itu bikin jengkel aja.
    Jika suami istri hanya punya apa-apa yang dikatakan buku-buku laris itu, mereka sebaiknya tidak perlu punya anak dan tidak layak mengadopsi anak orang, sekalipun anak orang tak mampu. Sebab dampaknya akan begitu besar untuk kerapuhan generasi kemudiannya dan ras manusia akan menjadi ras paling menyedihkan yang pernah hidup di muka bumi ini.

    suami-istri+lemah (Roro)

  • Senin, 08 Februari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • 54

    Inilah hidup. Dan justru orang yang 1per4 seperti kami ini yang tak banyak menikmati kemudahan yang diberikan dunia dalam banyak hal. Kami akan hilang tak bernama, dan mereka akan jadi populer dan tetap tak sadar apa-apa. Bagi kami, mereka-mereka ini, tak pantas bicara soal moral, HAM, kesetaraan gender, dan agama. Mereka tak lebih dari phedophilia, penyebar gas beracun massal, menyiksa bawahan, pergi ke rumah ibadah sebagai trend atau formalitas.
    Anjuran dari kami, "Kalau pasanganmu tidak super, jangan pernah bercinta dan melahirkan anak-anaknya. Untuk laki-laki, kalau kau kawin dengan perempuan tidak super, jangan hamili dia.."
    "Dan kau emang tolol memilih orang," tandas Vallent.
    "Untuk wanita, kawinlah dengan laki-laki yang punya kesadaran tinggi, peka, dan berdedikasi dalam hal-hal yang penting untuk keluarga."
    "Jika tidak, tendang saja dia, sekalipun kau sudah punya anak darinya," timpal Vallent lagi.
    "Perceraian adalah jalan keluar demi kebaikan yang lebih besar."
    Dan protektif dan keras kepala jauh lebih baik dari pada adil dan bijaksana.

    Wanita+hamiltua (Roro)


    53

    Kami tahu, wanita hamiltua tak bisa tidur malam. Mereka sering batuk-batuk seperti perokok berat di tengah malam sampai subuh. 
    "Dan pastinya mreka pegi kemana-mana bawa drum," guyon Si Tengah waktu dia menjemur kolor-kolornya yang anehnya berwarna hijau melulu.
    Jika ditanya apa yang paling kalian benci, kami akan menjawab: "Wanita hamil yang merepotkan sebagian besar orang di sekitarnya karena dia cuma punya satu pilihan atau cara untuk menyelesaikan tugas itu."
    Menjengkelkan sekali jika orang-orang di sekitarnya terlalu bodoh untuk menghandle tugas-tugas itu dan membuang-buang energi untuk hal lain, dan kemudian tak punya cukup tenaga untuk yang lebih utama. Misalnya menjaga relasi dengan anak-anak. Semua itu adalah omong kosong besar yang tak ingin kami lihat. Terlalu menyebalkan sehingga kami bahkan merasa peristiwa ini lebih dibenci dari pada seorang Jendral membunuh bayi 10 hari.
    Inilah orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang tahapan hidupnya. Orang-orang seperti ini akan membebani dunia dan menambah lebih banyak lagi kerusakan yang tak cukup ruangwaktu dan energi dan juga pikiran untuk menanggulanginya.

    Wanita seperti itu akan melahirkan begitu banyak masalah yang tak bisa diatasinya sekaligus tak menyedari bahwa dirinya adalah sebabnya. Orang-orang seperti kami akan tiba-tiba mendapati laci kami penuh masalah yang kami tak bisa temukan penyelesaiannya. JIka kami mesti berbagi diri kami sekali lagi untuk wanita seperti itu, kami akhirnya hanyalah 1per4 dari diri kami utuh. 3per4 bagiannya telah disekap oleh masalah sendiri, masalah orang lain, 
    "dan siap-siap menangkap jika seseorang pingsan."




    Paskah+female (Roro)

  • Jumat, 29 Januari 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,

  • 51

    Kami teringat pada Roro. Kami jadi terobsesi padanya. Meski peluangnya kecil sekali untuk menemukannya. Semakin banyak wanita yang kami temukan, semakin banyak yang tidak tahu menahu soal Roro.
    Ketika orang Kristen merayakan Paskah, kami memilih liburan di rumah saudari bungsu Nenek. Dia wanita tua beraga ketat. Meski berbeda agama dengan kami, dia memperlakukan kami seperti cucu-cucu yang datang dan merayakan hari Yahweh membebaskan umat Israel dari belenggu Mesir. 
    Mungkin sepupu kami tahu soal Roro. Sedikit saja sudah senang. Tapi mereka tak tahu apa-apa. Pada Malam Paskah, teman seorang sepupu datang bersama bapaknya untuk ikut merayakan Paskah sebab katanya," Aku deket banget sama Nenek kalian."
    "Ooooooooo."

    Gadis itu manja. Kawat gigi. Sering melihat jam tangannya seperti menghitung waktu satu kegiatan untuk masuk ke kegiatan lain. Pakaiannya modis sekali. Pakai syal yang diikat di kepalanya yang anggun, menjulur sampai ke pinggulnya yang mencong ke dalam dan ke luar dengan sama proporsinya. Yang kami suka darinya, dia senang memakai terusan atau rok yang kainnya halus bagai bludru atau nila.
    "Roro mungkin feminim seperti dia." Kami diam-diam berharap.
    Dan Nenek berusaha mendekatkan salah satu dari kami berempat padanya.
    "Dia 18 tahun. Kuliah tahun pertama. Anak tunggal, dan ingin punya banyak saudara."
    "Cocoklah kalau bergaul dengan kami," kata Si Sulung sok simpatik. Sok Cool. Tai lu!
    Tapi dia lebih dekat dengan Si Bungsu. Yang orangnya cuek mampus dan selalu memikirkan teknologi informasi termutakhir buatan Jepang atau Inggris.
    "Kenapa bukan USA?"
    "Sudah basi."
    "Oh, begitu?"
    Dan akhirnya bulan Mei awal, dia berpacaran dengan gadis itu. Namanya saja kami lupa ingat. Jadi, ceritanya sekarang, dari 4 orang bersaudara laki-laki, 1 orang sudah punya pacar. Yang belum punya pacar, 3 orang, termasuk kami, yang kelihatan bakalan jomblo4ever....

    Anak+pilihan (Roro)



    50


    Suatu saat kami akan membuat buku. Buku yang berisi pembelaan anak-anak yang telah dipersalahkan oleh sejumlah elemen dunia.
    "Misalnya apa tuw, Bang?" tanya tukang tambal ban di dekat rumah, tempat kami biasa tunggu angkotan yang lagi ngetem, lama banget.
    "Nih pertama ye, orang tua, trus kedua, masyarakat, dan yang ketiga, agama."
    "Kok agama dibawa-bawa, Bang?" Dia lagi belepotan oli. Vespa butut milik seorang pria butut juga sedang divermak.
    "Lihat aja ntar, Bang. Cabut dulu ye!"


    Lalu datang angkot merah itu, bagai hantu entah dari lubang mana.
    Banyak wajah segar dan gress berpepetan di dalamnya. Kami mungkin harus mengusutkan tubuh sedemikian rupa baru bisa nyelip.Tapi asyik kalo lu nyelip di antara itu....
    "Ah lupakanlah!"
    Yang pasti, satu saat akan kami kumpulkan daftar hal yang dibenci oleh anak-anak atas orang tuanya, masyarakatnya, dan agamanya. Kami yakin, ada begitu banyak kejutan dimana anak-anak dikatakan tidak bersalah oleh pengadilan Moral dan Psi.
    "Jadi?"
    Yah, kira-kira kesimpulan sementara, mereka dalah korban malpraktek orang tuanya.



    Related Posts with Thumbnails

    La Musica