Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku

Mitos Skripsi

  • Jumat, 18 Mei 2012
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • Skripsi

    1

    Saya baru saja menyelesaikan Ujian Skripsi di sebuah Fakultas Filsafat. Ketegangan menghadapi Ujian Skripsi sudah lewat—meski sebenarnya saya tidak tegang sama sekali, malahan merasa ujian ini sama seperti ujian lainnya yang bersifat presentasi kemudian tanya jawab. Jadi jika orang-orang bilang bahwa “Pas ujian skripsi keadaan jadi sangat tegang, jantung berpacu tiga kali lipat dari normal” malah saya merasa itu bohong, dan tidak berlaku pada diri saya, dan banyak kawan saya di fakultas yang sama. Jadi semua kisah tentang skripsi bisa dikatakan sudah menjadi mitos, dibesar-besarkan kemudian menjadi sugesti. Intinya adalah jika kamu sudah siap, kamu tidak akan takut dicoba. Prinsipnya kan sang dosen penguji tidak mungkin menanyakan sesuatu yang diluar skripsi kita.

    2

    Untuk sampai ke waktu “Ujian Skripsi” ini, saya menghabiskan waktu kuliah yang diperkenankan di universitas saya yaitu 14 semester alias 7 tahun. Dua orang kawan saya yang hebat, menyelesaikannya malah dalam 4 tahun pas, tidak kurang tidak lebih dan mereka mendapatkan nilai 80 untuk Skripsi mereka. Bayangkan, dalam 4 tahun, mereka bisa mengambil 144 SKS dan mendapatkan nilai A untuk Skripsi. Bagi saya, mereka berdua mahasiswa yang paling efektif dan efisien. Salah seorangnya melanjutkan S2 ke fakultas hukum di daerah Menteng.

    Dari pengalaman mereka, dan tentu banyak mahasiswa lainnya, saya yakin bahwa mahasiswa manapun bisa menyelesaikan kuliah dalam 4 tahun dan mendapatkan nilai A untuk Skripsi, sejauh dia benar-benar “mau menyelesaikan kuliah dan Skripsi” karena jika dia terus mengulur-ulur dan lebih memfokuskan diri (atas membagi waktu dengan hal lainnya) pada kegiatan “sampingan” misalnya bekerja, menaklukan cewek, aktif di kegiatan mendaki gunung, olahraga, musik, teater, dll, saya rasa akan sulit menyelesaikan kuliah dan Skripsi dalam 4 tahun pas.

    Meski saya termasuk mahasiswa dalam angkatan yang paling akhir menyelesaikan kuliah, saya tetap memberi “salut” pada diri saya sendiri karena sudah berhasil mengeluarkan diri dari DO dan itu akan membuat semua rencana saya berantakan. Apalagi saya ingin segera menikah dan punya anak (sebab saya sudah punya pekerjaan ketika saya semester 10).

    3

    Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman kuliah dan menulis Skripsi adalah “tidak membuang-buang waktu”. Sebab saya harus bertanya pada diri saya sendiri “apa yang kamu kejar?” Sebuah “Cum laude”? atau “selesai kuliah secepatnya”? Pilihan ini yang menentukan kapan saya bisa menyelesaikan kuliah dan Skripsi. Saya menutuskan untuk “selesai kuliah secepatnya” tapi mengalami “masalah keuangan” dengan Sekretariat dan itu meluluhkan semangat saya untuk menyelesaikan kuliah dan Skripsi secepat-cepatnya (ketika itu semester 10) dan saya memutuskan untuk “rehat” 3 semester, bekerja, dan menikmati hidup ketika tidak ada jam kuliah dan tetek bengek kampus yang memaksa saya harus masuk pagi-pagi, pulang petang, mengerjakan paper dan berdiskusi kelompok dengan orang-orang yang sama malasnya seperti saya, jika tidak malas, mereka sangat cerewet dan sok tahu.

    Pada semester 14 ini juga, saya tetap berprinsip menyelesaikan kuliah dan Skripsi “secepat-cepatnya” maka saya masukkan bahan Skripsi ke Sekretariat, berdamai kembali dengan orang-orang di Sekretariat, berusaha sabar dan rendah hati (demi sebuah ijazah) dan tenang menunggu jadwal Ujian Skripsi.

    Jika seorang mahasiswa sudah belajar banyak tentang bahan skripsinya, tak perlulah dia harus tegang berhari-hari selama menunggu hari H. Misalnya saya Ujian pada hari Rabu pukul 10-11 siang. Pada hari-hari sebelumnya, saya tidak “tegang” dan berusaha “memakan” semua lembaran Skripsi saya. Saya membaca dengan santai dari halaman awal sampai akhir, menulis ringkasan (hanya satu lembar bolak-balik) kemudian hanya membaca “ringkasan” itu di waktu senggang. Jadi saya tidak menciptakan kondisi “terpaksa” dan “tegang” untuk diri saya sendiri. Hasilnya, saya bisa dibilang tidak “belajar” sampai hari H, bahkan saya terlihat sibuk ngobro tentang situasi politik dan masalah keluarga dengan salah seorang kawan yang jenius, merokok dan ngeteh, mendengarkan lagu-lagu dari notebook dan membaca sebuah novel berjudul Emily of New Moon. Rahasianya adalah “tenang” menghadapi segala sesuatunya, sama seperti seorang agen profesional.

    4

    Pada waktu yang ditentukan, saya masuk ke ruang Ujian, duduk, membetulkan gulungan kemeja lengan panjang saya, meletakkan “ringkasan” di depan saya dan menunggu salah satu dari dua dosen penguji berbicara. Saya dipersilakan “presentasikan skripsi Anda dalam waktu 15 sampai 20 menit” dank arena begitu efektif dan efisiennya saya, “presentasi” itu hanya berlangsung selaman 7 menit. Kedua dosen penguji heran, saya diminta “ada yang masih kurang, dan Anda bisa menambahkannya lagi, masih banyak waktu” dan saya menambahkan yang perlu, lalu duduk tenang, mengangkat dagu dan menunggu kedua dosen penguji berbicara. Semudah itu, tidak tegang, tidak sakit perut, tidak kebelet pipis, tidak keram, tidak gagap, tidak segalanya. Ternyata semua kisah seputar ujian skripsi adalah mitos.

    45 menit sisanya, saya dicecar soal teknis penulisan dan kalimat-kalimat yang masih dibutuhkan tambal sulam dan penjelasan lebih lanjut. Kedua dosen mencoret disana-sini, memberikan tambahan dan membantu saya mengisi skripsi saya agar lebih “penuh” lalu saya dan kawan yang “menonton” diminta keluar sebentar, kedua dosen penguji akan berembuk untuk memberi nilai. Lima menit kemudian saya dipanggil masuk dan mereka dengan tenang mengatakan “Presentasi Anda kurang tapi skripsi Anda lumayan. Kami sepakat memberi Anda 72” itu artinya saya mendapat nilai B. Semudah itu. Saya keluar dan bergabung bersama kawan yang “menonton”, turun ke lantai bawah dan mendapat jabatan tangan dari orang-orang yang mengenal saya, mereka yang juga ikut ujian skripsi, dan kami berdua pergi ke warteg tak jauh dari situ, makan siang dalam hujan deras yang menghajar Jakarta Pusat, lalu kembali ke kost kawan saya itu. Disana kami merokok, ngeteh, mendengarkan musik dan sama sekali tidak membahas soal skripsi, malah kami menonton film Mission Imposible 4 dan John Carter. Semudah itu. Sesederhana itu.

    5

    Semua yang kita dengar tentang Ujian Skripsi, Dosen Killer, situasi yang menegangkan, adalah mitos dari universitas itu sendiri. Itu semua demi “memotivasi” para mahasiswa lebih giat belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi “ujian” di dunia luar yang lebih “ngeri” dari pada sejam duduk di hadapat dosen penguji. Dan saya rasa saya boleh bilang bahwa “ujian skripsi adalah satu jam kegiatan akademis yang menyenangkan selama hidup saya sebagai mahasiswa”.

    Fulcanelli

    0 komentar:

    Related Posts with Thumbnails

    La Musica