Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Introduksi

Blog ini mengemas NEWS, PROSA, PUISI, dan CERITA-SEKITAR-KITA. Sebagian besar berisi berita yang "Tidak Mengenakkan Dalam Masyarakat". Alasannya adalah supaya para pembaca tidak ikut-ikutan menjadi Orang Indonesia yang "Buruk". Kita sudah bosan dengan kerusuhan, konflik, entah atas dasar SARA atau Intervensi Asing, jadi marilah kita lindungi diri kita dari orang atau kelompok yang "Menginginkan Keburukan Terjadi Dalam Negeri Kita Ini".


_Asah Terus Penamu_





WeDaySupport

Tamu Wajib Lapor










hibah sejuta buku

formspring.me

  • Rabu, 03 November 2010
  • A. Moses Levitt
  • Ask me anything http://formspring.me/ANTORamon

    perempuan Indonesia paling inspiratif bagimu siapa?

  • A. Moses Levitt
  • Ayu Utami

    Ask me anything

    Cari Kerja Saja (Roro)

    Katanya liburan panjang mau kroyok Skripsi Abang, tapi nyatanya tidak banyak kemajuan. Abang malah tambah stres sebab anehnya dia tidak tahu jadwal kapan masuk kuliah. Kapan batas terakhir hari daftar ulang dan memasukan bahan-bahan skripsinya. Apalagi dia kehilangan nomor HP si dosen pembimbing. Di tambah, duit dari Ibu sudah dengan diam-diam dia pakai buat jalan-jalan, senang-senang main biliar bersama geng-nya.

    Galau. Getir. Takut. Cemas. Kecewa. Semua ada pada diri kami 4 bersaudara. Liburan yang jadi kacau. Apalagi di tambah, kekasih baru Abang yang sering telepon dan bilang:
    "Bantuin aku dong, say. Kerjaan menumpuk."
    Kami tidak tahu wanita itu kerjanya apa, sehingga banyak tumpukan di rumahnya.
    "Barangkali penadah koran dan barang bekas, bro?" sela Si Tengah yang sudah sebulan no contact sama si temi. Tambah cantikkah gadis itu?
    "Kacau balau. Gw rasa kaya dihimpit kayu-kayu gelondongan. males. Marah. Pengen lari ke dalam sumur biar ilang," keluh Si Sulung. Kami ber3 saudara jadi kasihan padanya. Tapi mau bagaimana? Buat laki-laki 23 tahun yang belum lulus-lulus Skripsi, Abanng harus tanggung resiko. Pertama, diuber2 pacarnya buat merit. Kedua, diancam Bapak tidak kirimin duit bulanan. Ketiga, malu sama teman2 dan kerabat di kota ini.

    "Ah, Abang. Kita cari kerja aja. kalo punya penghasilan, orang2 gak akan mandang kita renddah coz belum lulus juga skripsinya."
    "Betul, cez. Lo encer juga otaknya."
    Si Sulung senyum. Kami ber3 saudara bahagia buat dia.

    Koordinasi Buruk Hadapi Banjir

  • Minggu, 10 Oktober 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label ,

  • Kelambanan penanganan bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat, disebabkan buruknya koordinasi penanganan oleh pemerintah. Padahal, jika pemerintah betul-betul menyadari bahwa Indonesia adalah negara rawan bencana, koordinasi bisa dirumuskan sejak awal sehingga implementasinya lebih baik.

    Kepala Konsorsium Pengurangan Risiko Bencana Dadang Sudardja mengatakan, persoalan penanganan bencana bukan terletak pada ketersediaan aturan yang jelas, tetapi pada aspek implementasinya. Implementasinya sering gagal karena tak ada koordinasi.

    "Harusnya sudah bisa diprediksi, ya. Kami kan punya peta kerawanan bencana. Negara ini punya tingkat bencana yang cukup tinggi. Kami harusnya punya aparat yang punya daya jelajah tinggi. Harusnya kalau dikoordinasikan dengan baik bisa. Tapi, kami tidak mempersiapkan diri. Saya kira persoalannya di tingkat koordiinasi, pola komunikasi yang membuat bertanya terus ini kewenangan siapa?" ujarnya dalam diskusi mingguan Polemik di Warung Daun Cikini, Sabtu (9/10/2010), yang bertajuk "Bencana Alam Mengancam".

    Dadang mengatakan, terjadi stagnasi di pemerintah daerah dalam merespons kebijakan tentang penanganan bencana. Dalam data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diterimanya, Dadang mengatakan, korban bencana masih mengalami kekurangan bantuan, terutama kebutuhan dasar pengungsi, seperti makanan, tenda, selimut, premium, dan kantong jenazah. Para relawan yang masuk juga masih minim.

    "Kalau bisa berjalan baik sebenarnya bisa diminimalisasi. Kami ini reaktif. Padahal, kami sudah ada peraturan tentang pengaturan bencana dan ada rencana nasional yang bisa diimplementasikan," kata Dadang.

    Staf ahli presiden, Velix Wanggai, mengatakan, pemerintah sudah memiliki standar penanganan bencana yang sudah diterapkan dalam tiga tahun terakhir. "Peta kerawanan bencana dan perubahan iklim sudah ada," ujarnya.

    Jual Diri Setelah Bencana

  • Kamis, 07 Oktober 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label
  • Menjadi pelacur di kampung sendiri. Itulah kenyataan yang terjadi pada banyak pengungsi perempuan di dua pertiga kamp pengungsi korban gempa bumi Haiti. Temuan dari Refugees International (RI) pun mengemuka ke media massa. "Para perempuan terpaksa menjual diri untuk mendapatkan makanan," begitu catatan Juru Bicara RI, Melanie Teff, kemarin.

    Gempa bumi itu sudah sepuluh bulan berlalu. Insiden tersebut menewaskan paling sedikit 250.000 jiwa. Tak cuma itu, lebih dari sejuta warga Haiti kehilangan tempat tinggal.

    Masih menurut Teff, bahkan tiap hari banyak kasus perkosaan beramai-ramai. "Perlindungan keamanan amat minim dan preman merajalela hingga suasana penampungan menjadi menakutkan," tuturnya.

    Berangkat dari kejadian itu, Teff meminta Pemerintah Haiti memberikan perlindungan lebih besar kepada para pengungsi.

    Sementara itu, mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, yang juga utusan khusus PBB untuk Haiti mengaku frustrasi dengan lambatnya penyaluran bantuan yang dijanjikan. Namun, Clinton mengisyaratkan bahwa Pemerintah AS segera mengirim apa yang ia sebut sebagai uang muka bantuan dalam jumlah besar.

    Tuti Sang TKW yang Nyaris Gila

  • Rabu, 06 Oktober 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label
  • Tuti Handayani (22), wanita cantik korban pedagangan manusia (trafficking), ketika bekerja ke negara jiran Malaysia, mendapat sejumlah bantuan dari Ketua Tim Penggerak PKK Langkat, Ny. Nuraida Ngogesa Sitepu.

    Korban, warga Desa Pasar Baru Tanjung Ibus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, itu beberapa waktu yang lalu sempat diperlakukan tidak manusiawi oleh majikannya di Malaysia.

    Setelah berjuang, akhirnya Tuti Handayani bisa pulang ke kediaman keluarganya. Namun, sangat mengenaskan.

    Tuti hilang ingatan dan harus mendapat perawatan dari psikiater. Selain itu, setelah mendapat pendampingan dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Langkat, kondisi Tuti akhirnya pulih, dan kini dia bisa beraktivitas kembali.

    Pada Selasa (5/10), Ketua PKK Langkat Ny Nuraida Ngogesa Sitepu, berkenan memberikan sejumlah bantuan kepada Tuti Handayani.

    Nuraida juga mengimbau masyarakat Langkat, bila menemukan gejala ataupun adanya orang-orang yang memberi iming-iming untuk dipekerjakan ke negara jiran, jangan lekas percaya.

    "Telusuri terlebih dahulu, jangan nanti akhirnya masyarakat akan menjadi korban pula, seperti yang dialami Tuti Handayani. Kita tidak inginkan lagi Tuti lainnya menjadi korban," katanya.

    Demi Ibu (Roro)

  • Selasa, 05 Oktober 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , ,
  • Kabar tentang sakit Ibu dan Ibu yang menangis diam-diam di kamar mandi (laporan oleh saudari kami, Gunaprya) telah membuat kekacauan tambah besar. Disamping harus pecah otak buat bantu Abang. Kami juga harus mikirin gimana buat Ibu senang dan tidak ada dalam keadaan yang bisa membuat Ibu serangan jantung mendadak.

    Yang bisa kami ber3 saudara lakukan ada beberapa hal, maka diam-diam kami, Si Tengah dan Si Bungsu merembug di tempat jemuran waktu Si Abang lagi pergi sebentar ke perpustakaan kampus. Kami ber3 berbicara tentang kehidupan kami ber4. Kami berjanji akan melancarkan rencana tanpa cacat. Kami akan rajin belajar. Dapat IPK 3 koma. Cari kerja dikit-dikit dan tidak sibuk pacaran dulu.
    "Ga ML dulu," cetus Si Tengah.
    "Gak ngedrugs," sambar Si Bungsu.
    Tidak minum JD, Tq, Mar, atau BM. Tidak party-party di Musro atau Indochine dan melakukan tindak kriminal apapun.

    "Demi Ibu!" kami berseru nyaris haru.
    "Demi Ibu!" Si Tengah dan Bungsu ikut gempita.
    Dan mulai detik ini kami ber3 akan bantu Abang menyelesaikan skripsinya dalm 3 bulan ke depan. Biar Ibu senang dan dengan itu menjadi panjang umurnya. Setelah itu kami ber3 akan giat menemukan Roro, di lubang manapun dia berada.
    Kami harus, juga demi Ibu!

    Met Lebaran!

  • Kamis, 09 September 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label

  • Saya mau ngucapin selamat merayakan hari raya keagamaan Idul Fitri buat teman-teman beragama Islam dimana pun mereka berada terkhusus narablog yang sering saya kunjungi....mohon maaf lahir batin. Maaf kalian semua saya terima (GR)...heheheh..//// jangan lupa kalo mudik periksa kompor gas, titip kunci ke pos satpam yang dipercaya kalo gak bikin alarm ekstra maling gak bisa masuk...trus nyalain lampu bagian luar. kalo perlu bayar sekuriti jagain rumah. bawa barang yang secukupnya ntar kecapean sampe di tujuan....salam buat semua anggota keluarga....mari makan ketupat dan berdoa!

    Kenapa Tuhan? (Roro)

  • Rabu, 08 September 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , ,
  • Benar Ibu sakit tapi kami tak tahu betul kenapa Ibu bisa sampai sakit. Ibu selalu tak mau cerita. Bapak apalagi. Agak mengerikan memang. Tapi lewat saudari kami, kami tahu Ibu sakit jantung.

    "Baru tau sekarang ya? Perasaan Ibu selama ini anemia atau maag."

    Kami takut. Trus terang takut sesuatu terjadi di rumah dan Ibu kena stroke. Makanya kami ber3 tak mau Abang tahu soal ini. Si Tengah sudah berjanji tidak akan bocorkan rahasia ini, juga Si Bungsu. Tapi dia nangis diam-siam. Kenapa Ibu bisa sakit begitu?
    Kami mulai merasa Tuhan tidak adil. Di saat Bapak mulai mau pensiun, kok banyak hal menjadi kacau? Kenapa tidak Tuhan buat semuanya baik-baik saja? Kenapa Tuhan tidak biarkan mereka menikmati masa tua dengan tenang? Kenapa? Dan tiba-tiba kami merasa, Roro mungkin "sign" untuk apapun yang sedang dan akan terjadi.

    Ibu Sakit Jantung (Roro)

  • Kamis, 26 Agustus 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , , ,


  • Betul Ibu sakit tapi kami gak tahu kenapa Ibu bisa sampai sakit. Ibu gak mau cerita. Apalagi Bapak. Agak mengerikan memang punya orang tua yang gak egois. Tapi melalui saudari kami, tahulah kamu kalau Ibu sakit Jantung.
    "God Damn."
    "Baru tau sekarang ya. Perasaan Ibu selama ini cuma Anemia sama Maag."










    Terus terang kami ber3 takit sekali. Takut ada sesuatu terjadi di rumah atau di kampung trus Ibu kena serangan jantung, stroke dan...
    "Gila lo ngomong apa?" Si Tengah gak sanggup menerima kenyataan itu, soalnya dia lumayan dekat dengan Ibu. Tapi yang gak boleh tahu kabar ini adalah Si Sulung. Tahukah kalian bahwa Ibu menunggu 7 tahun untuk melahirkan Abang?
    Terus terang kami belum bisa terima itu. Kami pasti gila. Kami ber3 juga berjanji untuk menyimpan rahasia ini dari Abang. Si Bungsu bilang, dia siap dipotong uang jajannya selama setengah tahun jika ketahuan membocorkan rahasia itu pada Abang.

    Kenyataan itu membuat kami merasa Tuhan gak adil. Di saat Bapak mau pensiun, kok banyak hal jadi kacau? Kenapa gakTuhan buat semuanya baik-baik saja? Kenapa Tuhan gak biarkan Ibu dan Bapak menikmati masa pensiun dengan tenang? Kenapa? Tiba-tiba kami merasa, Roro mungkin "sign" untuk apapun yang sedang dan akan terjadi pada Ibu. Kami harus segera menemukan wanita ini. Wanita mesterius yang mungkin mitos dari Ibu.

    Soulmate (Roro)

  • Sabtu, 07 Agustus 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , ,
  • Aneh, kenapa Ibu tak menanyakan tentang Roro? Apakah Ibu tak peduli lagi pada pencarian akan sosok Roro yang selama nyaris 4 tahun kami berempat saudara sibuk menelusurinya? Bisa jadi Ibu mulai sadar bahwa kami berempatlah yang mesti diutamakan dari pada Roro ini. Kami berempatlah yang harus mencari sosok kami berempat sendiri. Tapi satu hal yang kami tak mengerti, jika Ibu tahu Roro itu ada dan berumur sebaya dengan kami berempat, apakah Ibu telah memperhitungkan salah satu dari kami berempat akan jatuh cinta dan mencintai Roro selama-lamanya?

    "Menurut Abang, Ibu sengaja menjodohkan salah satu dari kita sama Roro ini?"
    "May be yep may be not."
    "Ha?"

    Tapi...oh God, Ibu sakit. Sebab kami bilang kami berempat tidak bisa pulang liburan. Dia sakit sebab rindunya menggunung. Kami berdoa agar Bapak menjaganya dan menghiburnya. Bapak selalu tahu hiburan buat Ibu. Bukankah mereka harus begitu?

    Ibu atau Skripsi? (Roro)

  • Selasa, 03 Agustus 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , , ,

  •  Bersambung hari kemarin. Si Sulung berkelakar, "Sesekali lo dermawan dan beli-beli barang yang diiklanin gitu. Supaya paling ngak, kita pernah ngerasain gimana enaknya jadi orang kaya dan bisa beli semua hal yang diiklanin di tivi."
    Mungkin denger kelakar itu, Si Tengah teriak dari kamarnya, "Uang bensin, bro. Eh, gw pake Pertamax neh, kan gw pinjem CBR temen Ucok."
    "Ah, lo ma enak, jalan-jalan, nampang, trus godain cewek. Siapa yang ngak pengen nungging di CBR gitu?" Si Bungsu ngeluh sebab dia hanya perlu pergi jalan kaki ke warnet Prima buat browsing. Tapi kami menguatkan kelemahannya, sebagai anak bungsu yang selalu mau dimanja. Dalam hati kami berkata, lo ngak selamanya digendong Ibu, Dek. Lo lagi merantau ini.
    Kami bilang ke Si Bungsu, "Kan gw juga di rumah aja, ngedit-ngedit. Lo ngak inget, Dek? Gw sama Abang gak jalan-jalan. Jadi lo ngak perlu merasa ngak adil kaya gitu. Demi saudara bahkan ngak adil juga ngak apa-apa. Kalo Abang Skripsinya bagus trus dilirik buat dijadiin buku, lo kan kebagian KuePiang juga."

    Petangnya Ibu menelpon. Mungkin karena saking rindunya pada kami berempat.
    "Apa kabar Ibu?"
    "Baik-baik saja. Hari apa kalian pulang?"
    "Ngak IBu. Kami harus bahu membahu menyelesaikan Skripsi Abang."
    "Baiklah. Skripsi Abang kalian jauh lebih penting. Baik-baiklah kalian di situ. Jangan mabok. Jangan ngerorok banyak-banyak. Banyak-banyak minum air putih."
    "Terima kasih Ibu. Tuhan menjagamu."
    "Begitu pula kalian anak-anakku tersayang."

    Besoknya, subuh-subuh, saudari kami yang nomor 5 mengirim sms singkat: Ibu Sakit.

    Skripsi vs Ibu (Roro)

  • Rabu, 28 Juli 2010
  • A. Moses Levitt
  • Label , , ,
  • Karena liburan kuliah maka Pencarian Roro agak mandek. Ini disebabkan oleh karena kami 4 bersaudara merindukan suasana Rumah dan pengen balik ke Kampuang Halaman.Ibu pasti merindukan kami ber-4. Dan biasanya Ibu akan jatuh sakit jika kami ber-4 tidak berlibur. Kasihan Ibu, tapi kami ber-4 harus memilih untuk tidak pulang. Ini semua demi masa depan kami masing-masing. Dan oleh karena itu juga kami mesti meninggalkan Pencarian Roro.


    Banyak hal yang mesti kami ber-4 tinggalkan. Pagi ini, udara di luar jelek, dingin, berasa seperti lagi liburan ke Mongolia. Tapi kami ber-4 berembug dan sepakat untuk mengutamakan Si Sulung dari pada kerinduan Ibu. Caranya: kami ber-4 mengumpulkan bahan untuk menyempurnakan Skripsinya. Jadi Si Tengah yang jago luntang-lantung, bertugas mencari informasi data dan fakta di jalanan. Si Bungsu yang suka komputer, browsing.

    "Dengan syarat, kalo lo buka situs porno, uang jajan lo potong buat beli buku."
    Dan kami karena menyukai seni dan sastra, bertugas ngedit-ngedit tulisan ilmiah yang udah 80% jadi itu. Untuk ini, Si Sulung rela memakai semua uang jajan sebulannya buat membelikan kami ber-3 adik-adiknya: koyo, hormoviton, vitalong C, epethonweitgeith, dan roti dari mybread.
    Rasanya, kami ber-4 tiba-tiba menjadi saudara kembar yang begitu dekat. Rasanya kami selalu saling menyayangi selama ini tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya. Tahu sendiri gimana gengsinya laki-laki. Tapi lumayan, kami ber-4 bisa melakukan satu hal terbaik yang bisa kami lakukan, itu pun kalau tidak terjadi halangan dalam menyempurnakan Skripsi Si Sulung.
    "Oke, sekarang, kita mandi antre... ntar sore baru kita ngobrol lagi."
    Abang naik ke kamarnya, kami pergi olah raga di depan teras, pura-pura olah raga supaya dilihat gadis tetangga sebelah. Tahu tidak, umurnya berapa?
    14.
    Ha?
    Related Posts with Thumbnails

    La Musica